Mengantre Berobat di Tengah Keterbatasan

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Siang itu, Selasa (13/1/2026), cuaca di Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang, cukup terik. Sejumlah relawan kesehatan baru saja menyiapkan tempat untuk membuka lapak layanan kesehatan.

Istilah lapak sepertinya cukup cocok dengan tempat itu. Sebab, layanan kesehatan diberikan di tempat seadanya dengan alas terpal dan tikar tipis di tengah barang-barang bantuan, seperti beras, popok, dan kebutuhan lainnya.

Baca JugaLayanan Kesehatan Diintensifkan ke Wilayah yang Sempat Terisolasi

Tempat layanan kesehatan juga tidak menentu, tergantung di mana lokasi yang bisa digunakan saat itu. Layanan pun tidak setiap waktu. Biasanya relawan kesehatan datang mulai dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00, tergantung pada kebutuhan pelayanan di lokasi yang dikunjungi.

Saat relawan kesehatan baru saja sampai dan menyiapkan tempat pelayanan, warga Desa Lubuk Sidup sudah mulai mengantre. Sebagian besar perempuan dan lansia. Namun, tidak sedikit warga yang membawa anaknya untuk diperiksa.

Meski di tempat yang terbatas, relawan kesehatan berupaya untuk memastikan layanan kesehatan bisa diberikan dengan baik. Alur pelayanan pun dibuat sedemikian rupa untuk membantu masyarakat yang diperiksa.

Pada bagian ujung, salah seorang relawan kesehatan, yang merupakan perawat, bertugas melayani pendaftaran ulang pasien. Petugas ini yang menuliskan nama, usia, serta keluhan dari pasien.

Baca JugaMenembus Batas, Sukarelawan Bencana Menyembuhkan dengan Hati
Baca JugaBencana Sumatera Lumpuhkan Ratusan Rumah Sakit dan Puskesmas

Setelah itu, pasien diminta bergeser ke petugas lainnya untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar. Pemeriksaan yang diberikan, antara lain, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, pasien diminta untuk bergeser ke dokter umum yang bertugas. Pada saat itu, dokter akan melakukan diagnosis atas keluhan serta hasil pemeriksaan dari pasien. Jika perlu, dokter akan memberikan resep untuk pasien tersebut.

Relawan kesehatan yang bertugas saat itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, relawan yang diterima oleh Kementerian Kesehatan diprioritaskan pada tenaga kesehatan dan tenaga medis yang masih berada di wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali.

Cakupan wilayah tersebut dibatasi mempertimbangkan alasan jarak dan biaya untuk akomodasi. Meski begitu, jumlah pendaftar cukup besar. Saat ini setidaknya sudah ada dua batch relawan kesehatan yang dikirimkan ke lokasi terdampak bencana di Sumatera.

Pada batch kedua, sebanyak 366 relawan diberangkatkan dari beberapa titik dalam beberapa gelombang. Relawan ini bertugas pada 5–18 Januari 2026. Mereka terdiri dari perawat, dokter umum, dokter spesialis, tenaga laboratorium, tenaga gizi, tenaga kesehatan lingkungan, apoteker, dan lainnya.

Meskipun pelayanan kesehatan yang diberikan masih terbatas, masyarakat diharapkan tetap bisa memeroleh kesehatan dasar secara optimal. Hal ini terutama untuk memastikan kelompok rentan, seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia tetap terlayani.

Perbaikan infrastruktur mesti dikebut agar akses pada layanan kesehatan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit bisa kembali normal. Kesehatan merupakan aspek yang harus diutamakan.

Baca JugaPengungsi di Aceh Terserang Penyakit ISPA, Diare, hingga Campak
Baca JugaMenghangatkan Jiwa Penyintas Bencana, Menjaga Harapan di Tengah Ketidakpastian

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
MRT Jakarta Targetkan 50 Juta Pelanggan pada 2026 dengan Pembangunan Fase 2
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Rupiah Diyakini Bisa Kuat Lawan Dolar AS, Asal..
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ekosistem Baterai Terintegrasi: Strategi Indonesia Perkuat Daya Saing Industri
• 7 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Australian Open: Janice/Piter Tumbang dari Tuan Rumah via Pertarungan Sengit
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Mentereng di Tengah Bintang Asing: Megawati Hangestri Buktikan Kelasnya di Proliga 2026, Tembus 100 Poin!
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.