Jakarta: Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan mitigasi pemerintah untuk membuat kurs rupiah membaik ialah memulihkan kepercayaan melalui kepastian arah kebijakan dan penguatan sumber valas.
"Mitigasi yang paling efektif dari sisi pemerintah intinya adalah memulihkan kepercayaan melalui kepastian arah kebijakan dan penguatan sumber valas," kata Josua dikutip dari Antara, Rabu, 21 Januari 2026.
Diketahui, nilai tukar rupiah saat ini sudah berkisar Rp16.900-an atau hampir menyentuh Rp17 ribu per USD.
Menurut Josua, pemerintah perlu mengunci narasi fiskal yang kredibel dan mudah diverifikasi. Mulai dari target defisit, sumber pembiayaan, prioritas belanja, hingga rambu pengaman apabila penerimaan meleset, yang harus dijelaskan jernih dan konsisten.
Ini disebabkan pasar cenderung tak suka ketidakpastian dan membutuhkan informasi risiko yang terbuka agar bisa menghitung langkah ke depannya.
Berikutnya, pembiayaan utang harus dikelola secara terukur agar tak menambah kepanikan pasar, yakni dengan pengaturan jadwal penerbitan, strategi memperluas basis investor jangka panjang, serta koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas rupiah tetap cukup tanpa memicu spekulasi nilai tukar.
Kemudian, desain kebijakan devisa hasil ekspor dengan memberlakukan skema yang tetap mendorong repatriasi dan ketersediaan valas di pasar tanpa memberatkan arus kas eksportir. Terakhir adalah menekan permintaan valas yang tak produktif dengan langkah praktis.
Beberapa di antaranya yaitu memperkuat substitusi impor energi dan pangan, memastikan belanja pemerintah yang memiliki banyak komponen impor dijadwalkan lebih bertahap, dan mendorong pelaku usaha melakukan lindung nilai yang wajar agar lonjakan kebutuhan dolar tak terjadi serentak.
Baca juga: Rupiah Melemah Tipis, Bertengger di Rp16.958 per USD
(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Rupiah tertekan ekonomi global dan domestik
Josua menilai peluang rupiah mendekati Rp17 ribu karena tekanan datang bersamaan dari sisi global dan domestik. Melihat sentimen luar negeri, permintaan dolar cenderung menguat saat ketidakpastian global meningkat, eskalasi ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS, sehingga mata uang negara berkembang turut tertekan.
Adapun dari domestik, pasar sedang sangat peka terhadap isu fiskal seiring muncul kekhawatiran defisit anggaran melebar dan kebutuhan pembiayaan bertambah, sehingga pelaku pasar menambah kebutuhan dolar dan menahan masuk dana baru.
Pelebaran defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bisa pula meningkatkan kebutuhan pembiayaan dan menambah sensitivitas pasar terhadap pasokan surat utang pemerintah. "Dalam kondisi seperti ini, tekanan rupiah sering sulit ditahan hanya dengan operasi stabilisasi jangka pendek, apalagi jika kekhawatiran fiskal dianggap belum mereda," terang dia
"Selain itu, pasokan valas di pasar bisa melemah saat surplus dagang menyusut dan jika ada perubahan aturan devisa hasil ekspor yang membuat konversi valas ke rupiah menjadi lebih lambat, karena itu langsung mengurangi pasokan valas harian di pasar," ucap Josua.
Josua menyampaikan Bank Indonesia (BI) saat ini menegaskan tetap berada di pasar untuk menjaga rupiah bergerak sejalan dengan nilai dasar. Stabilitas ditopang oleh bauran stabilisasi yang aktif, aliran masuk dana asing ke SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan pasar saham, premi risiko yang rendah, serta cadangan devisa yang masih kuat.
Dengan demikian, skenario Rp17 ribu lebih mungkin terjadi dalam bentuk pelemahan yang bertahap dan bergejolak, bukan pelemahan yang tak terkendali.
Implikasi apabila rupiah benar-benar menyentuh Rp17 ribu, lanjut dia, terutama terasa pada kenaikan biaya impor bahan baku dan barang modal, naiknya risiko tekanan harga pangan dan energi, potensi tambahan beban subsidi dan kompensasi, serta ruang pelonggaran suku bunga yang kian sempit karena stabilitas rupiah dan arus dana harus dijaga.
"Di sisi lain, ada manfaat bagi penerima devisa seperti eksportir, tetapi manfaat itu biasanya terbatas jika pelemahan terjadi cepat, sehingga mengganggu keyakinan pelaku usaha dan memicu penundaan investasi atau pembelian," ungkap Josua.



