Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung mengungkapkan bahwa Korea Utara (Korut) kini memproduksi cukup bahan nuklir untuk membuat 10 hingga 20 senjata nuklir setiap tahun. Pernyataan itu disampaikan Lee dalam konferensi pers awal tahun, Rabu (21/1).
“Bahkan saat ini, bahan nuklir yang cukup untuk memproduksi 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun masih terus diproduksi di Korut,” ujar Lee kepada wartawan.
Tak hanya itu, menurut kantor berita AFP, Lee juga menyoroti kemajuan signifikan Korut dalam pengembangan rudal balistik jarak jauh (ICBM) yang berpotensi menjangkau daratan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, Pyongyang sedang membangun kekuatan strategis untuk memastikan kelangsungan rezim.
“Pada titik tertentu, Korut akan merasa telah mengamankan persenjataan nuklir yang dibutuhkan untuk mempertahankan rezimnya, termasuk kemampuan ICBM yang bisa mengancam AS dan dunia,” katanya.
Lee memperingatkan, ancaman global bisa meningkat jika Korut mulai mengekspor kemampuan nuklirnya ke luar negeri.
“Ketika sudah ada kelebihan kapasitas, itu bisa menyebar ke luar perbatasan. Di situlah bahaya global akan muncul,” ujarnya.
Meski begitu, Lee menekankan pentingnya pendekatan pragmatis dan dialog dalam menghadapi isu nuklir Korut. Ia menilai penghentian produksi bahan nuklir, pengembangan ICBM, serta ekspor senjata akan menjadi keuntungan bagi semua pihak.
“Penghentian produksi bahan nuklir dan pengembangan ICBM, termasuk larangan ekspor ke luar negeri, akan menjadi keuntungan bersama,” ucap Lee, seraya menyebut pandangan itu telah ia sampaikan kepada Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Sejak dilantik pada Juni 2025 lalu, Lee mendorong dialog tanpa prasyarat dengan Korut. Namun hingga kini, Pyongyang belum merespons.
Korut bahkan menuding Korsel menerbangkan drone ke wilayah perbatasan Kaesong. Tuduhan itu dibantah Seoul, seraya mengisyaratkan bahwa serangan mungkin dilakukan oleh warga sipil.




