Nilai tukar rupiah melemah 0,06% ke level 16.966 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (21/1). Rupiah tertekan di tengah penantian investor terhadap penetapan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan diumumkan sore ini.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS dengan potensi melemah terbatas, investor menantikan hasil RDGBI sore ini," ujar Kepala Analis Doo Financial Futures kepada Katadata.co.id.
Ia menjelaskan kurs rupiah masih terbebani sejumlah kekhawatiran meski dolar AS tengah melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya. Investor khawatir dengan defisit anggaran yang membengkak, prospek pemangkasam suku bunga BI, hingga independensi BI.
Kekhawatiran independensi BI kembali muncul seiring pencalonan keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono sebagai deputi gubernur BI. Thomas saat ini masih menjabat sebagai wakil menteri keuangan.
"Kurs rupiah akan bergerak di rentang 16.900-17.000 per dolar AS," kata dia.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka menguat tipis satu poin ke level 16.955 per dolar AS. Namun, rupiah bergerak melemah ke 16.966 per dolar AS hingga pukul 10.33 WIB. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,23%, yuan Cina 0,07%, ringgit Malaysia 0,03%, dan dolar Singapura 0,02%.
Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,04%, won Korea Selatan 0,67%, dan peso Filipina 0,22%.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi juga memperkirakan kurs rupiah akan melemah hari ini di rentang 16.950 hingga 16.980 per dolar AS. Adapun tekanan terhadap rupiah yang tengah terjadi saat ini, menurut dia, dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
Dari eksternal, sentimen negatif masih berasal dari kondisi geopolitik yang memanas seiring aksi Presiden AS Donald Trump yang masih ingin merebut Greenland yang turut memicu perang dagang dengan Eropa. Trump mengatakan akan mengenakan bea tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland. Uni Eropa pun sudah menyiapkan balasan terkait ancaman tersebut.
Sebagian besar analis juga memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil. Pasar saat ini memperkirakan hanya 5% kemungkinan penurunansuku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch
Sedangkan dari sisi internal, menurut dia, revisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dilakukan IMF akan memberikan sentimen. Namun, ia sebelumnya menyebut sejumlah kekhawatiran yang menekan rupiah, terutama kondisi defisit fiskal yang melebar.




