Dari Ladang ke Dapur: Mak Comblang Project BGN Pangkas Rantai Pasok Pangan

disway.id
3 jam lalu
Cover Berita

CIANJUR, DISWAY.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) memulai langkah strategis dalam memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.

Program ini dirancang untuk menjawab persoalan klasik dalam rantai pasok pangan, yakni ketimpangan antara kapasitas produksi petani dan kebutuhan riil dapur MBG, khususnya di wilayah Jakarta dan Bogor.

Langkah awal Mak Comblang Project ditandai dengan pertemuan koordinasi bersama para petani dan Gapoktan di wilayah Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (19/1).

Pertemuan ini menjadi forum awal pemetaan rantai pasok untuk melihat kondisi lapangan secara apa adanya, baik dari sisi produksi maupun kebutuhan.

BACA JUGA:Integrasi MBG Dengan Ekonomi Desa, Dahlan Iskan: Kolaborasi Bersama Koperasi Merah Putih serta Perbankan

BACA JUGA:Skema MBG Saat Ramadhan Diungkap BGN, Makanan Tahan Selama 12 Jam Agar Bisa Dibawa Pulang untuk Berbuka

Jubir BGN, Dian Fatwa, menjelaskan bahwa selama ini petani dan dapur MBG berjalan di jalur yang terpisah. “Di satu sisi, petani di Cipanas mengalami over supply.

Namun di sisi lain, dapur MBG di Jakarta dan Bogor justru kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang stabil. Mak Comblang Project hadir untuk menyambungkan dua sisi ini secara langsung,” ujarnya.

Dalam pemetaan awal, BGN menemukan adanya kesenjangan volume yang cukup signifikan.

Pada komoditas jagung, misalnya, kapasitas produksi petani Cipanas berada di kisaran 30 ton per bulan, sementara kebutuhan dapur MBG di Jakarta mencapai sekitar 240 ton per bulan.

Kesenjangan ini menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan.

Selain kesenjangan volume, pertemuan tersebut juga mengungkap disparitas harga yang selama ini terjadi di lapangan.

Dian mencontohkan komoditas wortel, di mana dapur MBG kerap membeli dengan harga Rp15.000–Rp25.000 per kilogram, sementara petani hanya menerima Rp1.500–Rp3.000 per kilogram di tingkat kebun.

BACA JUGA:Link Live Streaming Indonesia Masters 2026 Hari Ini, Anthony Ginting Siap Rebut Tiket 16 Besar!

BACA JUGA:Basarnas: Data Smartwatch Korban ATR 42-500 Rekaman Lama

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemendagri Dorong Daerah Optimalkan Pemanfaatan Stadion
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Minta Maaf di Publik, Jule Disentil soal Ancam Bongkar Bukti KDRT Na Daehoon
• 7 jam laluinsertlive.com
thumb
Kondisi Terakhir Mahathir Mohammad Pasca Jatuh di Rumah, Ajudan: Alami Kemajuan Pemulihan
• 16 jam laludisway.id
thumb
Suara Hati Ibu Angkat Al Ressa Rizky Rossano Tak Ditemui Denada saat ke Jakarta: dari WA Aja Gak Pernah
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Pasar Saham Dunia Kompak Merah, dari AS, Eropa, hingga Asia
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.