Membantu Lulusan Perguruan Tinggi Menonjol di Tengah Pencarian Kerja Dibanjiri Bantuan AI

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Pemanfaatan akal imitasi membantu lulusan perguruan tinggi yang mencari kerja untuk menuliskan lamaran kerja yang ”sempurna”. Akibatnya, pasar kerja dipenuhi dengan lamaran kerja yang “sempurna”, tapi dinilai membosankan.

Untuk itu kalangan perguruan tinggi ditantang untuk menyiapkan lulusan yang memadukan mesin dengan unsur manusia. Harapannya, lulusan perguruan tinggi dapat bersaing di pasar tenaga kerja.

Laporan terbaru dari Career Group mengungkapkan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini digunakan dua pertiga pencari kerja. Kemudahan relatif penerapannya menyebabkan peningkatan jumlah lamaran kerja lulusan perguruan tinggi dibandingkan sebelumnya.

Institute of Student Employers memperkirakan rata-rata jumlah lamaran lulusan per lowongan kerja 140 orang. Hal ini berarti meningkat 59 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari laporan bertajuk “Menavigasi Pasar Kerja Lulusan yang Dipenuhi AI” dikutip dari laman magazine.qs.com, Rabu (21/1/2026), disebutkan meski begitu banyak lamaran yang hampir sempurna dikirimkan, para lulusan di Inggris menghadapi pasar kerja terberat sejak 2018. Sebab, perusahaan menunda perekrutan dan memakai AI untuk memangkas biaya.

Baca JugaAI Menulis Ulang Dunia Kerja dan Memperlebar Ketimpangan

Survei Kecerdasan Tempat Kerja yang disponsori oleh Hult International Business School mendapati 37 persen manajer di seluruh dunia mengakui mereka lebih memilih mempekerjakan AI daripada lulusan generasi Z.

Karena makin sulit bagi lulusan untuk menonjol, layanan karier universitas menyesuaikan layanan mereka untuk membantu lulusan menavigasi gelombang baru aplikasi AI ini.

“Kita kembali ke titik awal. Alih-alih perekrut harus menyaring ratusan resume untuk menemukan kandidat berkualitas, kini mereka harus menyaring ratusan kandidat yang hampir sempurna,” kata Kepala Pengembangan Karir dan Ketenagakerjaan di Hult International Business School Nav Dutta.

Keterampilan manusia

Dutta mengemukakan, AI mungkin mampu membuat lamaran kerja tanpa kesalahan, tapi tak bisa memberikan keterampilan siap kerja kepada lulusan. Keterampilan manusia, terutama keterampilan lunak atau soft skills, adalah sesuatu yang tak dapat ditiru secara efektif oleh akal imitasi.

“Di kampus, kami mengajarkan kepada para mahasiswa bahwa di saat semua orang membanjiri portal aplikasi dengan materi aplikasi yang dibantu AI, para pencari kerja perlu kembali dan memainkan permainan manusia,” kata Dutta.

Namun soft skills seperti kecerdasan sosial dan emosional, komunikasi dan pengaruh, otentisitas, dan kerendahan hati, membutuhkan waktu untuk dikembangkan, membutuhkan kesabaran dan kerja keras.

“ Namun di dunia digital serba instan, mahasiswa lebih terterpa media sosial yang mengklaim pencarian pekerjaan dapat dilakukan dalam lima langkah. Padahal, jauh lebih rumit dari itu,” jelas Dutta.

Meski demikian, AI juga memiliki kelebihan. Penggunaan alat AI dapat dengan cepat mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan untuk karier tertentu.

Di dunia digital serba instan, mahasiswa lebih terterpa media sosial yang mengklaim pencarian pekerjaan dapat dilakukan dalam lima langkah. Padahal, jauh lebih rumit dari itu.

Dengan pengetahuan ini, para dosen menunjukkan kepada mahasiswa cara menulis resume berbasis prestasi menggunakan metode XYZ perekrut Google, dan mendorong mereka untuk menggunakan AI untuk mendapatkan umpan balik.

Menghadapi situasi tersebut, kuncinya adalah memadukan mesin dengan unsur manusia. Saat mengajukan lamaran, mahasiswa didorong untuk mencari manajer perekrutan (manusia) dan menyampaikan alasan yang meyakinkan untuk mengobrol singkat tentang kesesuaian mereka dengan pekerjaan yang tersedia.

“Ini membantu mereka menunjukkan penalaran verbal, kognisi secara real-time, dan keterampilan komunikasi secara keseluruhan. Program karier kami sangat menekankan pengembangan pola pikir berkembang dan ketahanan untuk menghadapi pasang surut dalam mencari pekerjaan,” kata Dutta.

Baca JugaSetelah Berdansa Bersama Robot

Hal senada disampaikan Olivia Trodden, Pelaksana Tugas Wakil Direktur Bidang Karier dan Ketenagakerjaan di Kingston University, Inggris. “Keterampilan manusia adalah jalan ke depan. Faktor pembeda akan berupa kualitas manusia,” katanya.

Trodden menambahkan, lulusan yang dapat mengartikulasikan pengalaman mereka dengan jelas, menunjukkan kemampuan beradaptasi, dan memberikan bukti pemecahan masalah dalam situasi kompleks akan menonjol.

Di Kingston University, keterampilan yang berpusat pada manusia tertanam dalam setiap mata kuliah mahasiswa sarjana sebagai bagian inti, yang diajarkan dan dinilai dalam gelar mereka.

Dukungan karier di Kingson University mendukung mahasiswa di pasar kerja yang digerakkan oleh teknologi. Mahasiswa menerima bimbingan tentang bagaimana dan kapan sebaiknya menggunakan AI.

“ Tujuan kami adalah mempersiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara digital tetapi juga mudah beradaptasi dan siap menghadapi masa depan,” ungkap Trodden.

Kemampuan beradaptasi merupakan temuan kunci dalam Laporan Masa Depan Pekerjaan 2025 dari Forum Ekonomi Dunia (Word Economic Forum). Sebanyak 67 persen pemberi kerja global mencantumkan ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan sebagai keterampilan inti yang dibutuhkan tenaga kerja mereka.

Secara terpisah, Maren Kaus, Direktur Layanan Karier di Frankfurt School of Finance & Management, mengatakan, alat AI telah mengubah langkah pertama persiapan karier bagi mahasiswa. “Ini adalah alat yang berguna untuk menyempurnakan lamaran pekerjaan. Tetapi ada risiko kehilangan keaslian,” katanya.

Kaus menekankan, kuncinya adalah menggunakan AI sebagai langkah awal untuk mengatur ide, tetapi jangan pernah menggantikan wawasan pribadi. Dalam lokakarya dan sesi konseling individual, Frankfurt School membantu siswa meninjau secara kritis konten yang dihasilkan AI, dan memastikan kisah, pencapaian, dan individualitas mereka tersampaikan.

Sekolah tersebut juga membantu siswa untuk lebih memahami bagaimana kecerdasan buatan digunakan dalam proses perekrutan, seperti penyaringan otomatis dan optimasi kata kunci.

Di Indonesia

Sementara itu, penyiapan karier mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) University dibantu sejak awal lewat program Talent Mapping. Sejak tahun 2021, IPB University secara rutin memetakan minat, bakat, dan potensi setiap mahasiswa.

Inisiatif tersebut bertujuan untuk memetakan potensi mahasiswa baru secara komprehensif sehingga dapat diketahui area yang perlu ditingkatkan serta potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. 

Hasil analisis Talent Mapping 2025 yang diikuti 8.000 mahasiswa baru menunjukkan kecenderungan terbesar mahasiswa berada pada sektor profesional (40,24 persen), disusul jalur birokrat/kepemimpinan (28,7 persen), akademisi/peneliti (20,25 persen), dan wirausaha (10,81 persen).

Distribusi ini menjadi dasar bagi fakultas/sekolah dalam menyiapkan strategi penguatan kompetensi dan pendampingan karier yang lebih relevan dan tepat sasaran.

“ Kami mengajak fakultas atau sekolah di IPB untuk mengoptimalkan pemanfaatan Talent Mapping dan integrasi data lintas unit sebagai landasan pengembangan mahasiswa lebih terarah, pada aspek akademik maupun nonakademik,” kata Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Deni Noviana.

Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Dyah Setyaningrum, menyatakan, di tengah dunia kerja yang kian dipengaruhi AI dan dinamika global, penting bagi Gen Z untuk tak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tapi juga mengembangkan soft skills dan literasi keuangan kuat. 

Melalui berbagai inisiatif, FEB UI mendorong pengembangan keterampilan lunak yang sulit digantikan oleh AI, seperti kreativitas, empati, dan kemampuan memecahkan masalah, termasuk juga literasi keuangan sebagai tameng dalam menghadapi era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA).

 

 

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mengapa zakat perlu lompatan inovasi, bukan sekadar digitalisasi?
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Video: Bankir Ungkap Cara Teknologi AI Ubah Wajah Bisnis Perbankan
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bertemu PM Inggris, Presiden Prabowo Perkuat Kerja Sama Maritim hingga Pendidikan
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Masyarakat Adat Distrik Konda Papua Barat Daya Terus Perjuangkan Pengakuan Penuh Hutan Adat
• 15 jam lalupantau.com
thumb
KPK Ungkap Modus Korupsi Wali Kota Madiun: Duit Proyek Disamarkan Lewat CSR
• 21 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.