Bisnis.com, BANDUNG— Kinerja fiskal APBN Jawa Barat tercatat surplus Rp26,43 Triliun sepanjang tahun 2025 dengan realisasi pendapatan mencapai Rp145,65 triliun, atau 95,99% dari target.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Barat, Fahma Sari Fatma, mengatakan realisasi tersebut didukung oleh pendapatan yang tumbuh sebesar 6,44% secara year on year (YoY).
“Secara spesifik, penerimaan pajak menjadi motor utama dengan realisasi Rp109,01 triliun atau 92,47% dari target yang ditetapkan," katanya, Selasa (20/1/2026).
Menurut Fahma, penerimaan pajak tersebut tumbuh sebesar 8,19% (YoY) yang didorong oleh kinerja positif seluruh jenis pajak.
Peningkatan signifikan terlihat pada Pajak Lainnya akibat implementasi kebijakan Deposit Pajak, hingga mencapai pertumbuhan 9.546,65% secara tahunan.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai disebutnya berhasil melampaui target dengan realisasi Rp28,52 triliun atau 100,70%.
Baca Juga
- Inflasi Jawa Barat Sepanjang 2025 Tercatat 2,63%
- Pajak Kendaraan Jawa Barat (Jabar) 2026, KDM Bedakan Perlakuan Mobil Penumpang dan Pribadi
- Daftar Proyek Infrastruktur Jumbo Pemprov Jawa Barat Meski APBD KDM 2026 Dibayangi Defisit
Di samping itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mencatatkan kinerja positif sebesar Rp8,12 triliun, jauh 146,64% di atas target. Realisasi ini menunjukkan pertumbuhan 8,58% (yoy), didominasi oleh PNBP Lainnya dan PNBP BLU yang ekspansif.
Sementara itu, dari sisi belanja terealisasi Rp119,22 triliun atau 96,88% dari pagu. Kontraksi belanja sebesar 6,77% (yoy) berkontribusi pada nilai surplus fiskal di Jabar.
“Kontraksi belanja negara secara tahunan disebabkan perlambatan signifikan pada Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar -19,47%,” ungkapnya.
Adapun rincian Belanja K/L, realisasinya mencapai Rp43,22 triliun atau 94,21% dari pagu, dengan capaian terendah pada Belanja Barang (89,82%). Namun, Belanja Sosial tercatat sebagai penyerapan tertinggi dengan realisasi hampir sempurna, yakni 99,99%.
Di sisi lain, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp76,01 triliun atau 98,47% dari pagu, tumbuh 2,40% (yoy). Penyerapan tertinggi TKD adalah Dana Insentif Fiskal (DIF) yang mencapai 100%, sedangkan Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi realisasi terendah 92,21%.
Sejalan dengan peran APBN sebagai pendorong daya beli, berbagai program prioritas telah memberikan manfaat di Jawa Barat. Seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sukses menjangkau 11,14 juta penerima di 27 kabupaten/kota melalui 4.233 unit SPPG.
Kemudian, pembiayaan perumahan melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah membangun 62.000 unit senilai Rp7,84 triliun. Selain itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp28,61 triliun untuk 510.000 debitur.
Sementara itu, secara makroekonomi, prospek ekonomi global 2025 menurut dia tetap resilien, meskipun ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas masih memengaruhi.
“Perekonomian Jawa Barat Triwulan III 2025 tumbuh 5,20% (y-on-y) dengan PDRB mencapai Rp759,80 triliun (ADHB),” ungkapnya.
Dari sisi stabilitas regional, terlihat dari inflasi Desember 2025 yang tercatat 2,63% (yoy), didominasi oleh emas perhiasan dan cabai rawit.
“Neraca perdagangan Jabar mencatatkan surplus US$2,35 miliar hingga November 2025, ditopang transaksi nonmigas,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia menyebut APBN dan mesin pertumbuhan lainnya akan terus dioptimalkan guna menjaga keberlanjutan ekonomi Jabar yang kuat dan berkesinambungan.
“Pemerintah memastikan program prioritas berjalan efektif untuk memperkuat perlindungan sosial dan menjaga ruang fiskal yang sehat,” katanya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/4973445/original/061158100_1729359530-Ivar_Jenner.jpg)

