JAKARTA, KOMPAS.com – Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, dikenal sebagai salah satu urat nadi utama aktivitas ekonomi Ibu Kota.
Namun, di balik gemerlap gedung pencakar langit dan infrastruktur transportasi modern, jalur pedestrian di sisi timur kawasan ini menyimpan persoalan serius yang berdampak langsung pada keselamatan pejalan kaki.
Jalan yang membelah kawasan bisnis Segitiga Emas sepanjang sekitar 4,9 kilometer itu setiap hari dipadati pekerja kantoran, pelaku usaha, hingga pengguna transportasi umum dari berbagai penjuru Jakarta.
Gedung-gedung perkantoran menjulang rapat, halte bus dan stasiun LRT berdiri megah, menjadi simbol modernisasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.
Baca juga: Melihat Kondisi Trotoar Rasuna Said, Tak Rata dan Menyisakan Bekas Tiang Monorel
Namun, di balik wajah metropolitan itu, terdapat kontras tajam yang kasatmata, khususnya pada jalur pedestrian di sisi timur Jalan H.R. Rasuna Said.
Jika sisi barat Rasuna Said telah dilengkapi trotoar selebar sekitar 2,5 meter dengan bangku taman, guiding block berwarna kuning bagi penyandang disabilitas, serta permukaan yang relatif rata dan nyaman, maka sisi timur justru menghadirkan kondisi sebaliknya.
Pengamatan Kompas.com di lokasi pada Selasa (20/1/2026) menunjukkan infrastruktur pedestrian di sisi timur, sepanjang jalur dari arah Setiabudi menuju Tendean, tampak terabaikan.
Kondisinya timpang dan kontras dengan kemegahan gedung-gedung perkantoran modern yang mengapit kawasan tersebut.
Trotoar sempit, lantai tidak rataSejak pagi hingga menjelang waktu istirahat siang, kawasan ini terasa sangat sibuk. Arus pejalan kaki mengalir deras dari berbagai arah, mulai dari gedung perkantoran, halte bus Transjakarta, hingga Stasiun LRT Kuningan yang membentang di atas jalan.
Namun, ribuan pekerja yang berpakaian rapi itu harus berhadapan dengan realitas jalur pedestrian yang jauh dari kata nyaman.
Permukaan trotoar terasa kasar dan tidak rata. Tidak tersedia bangku untuk beristirahat, tidak ada guiding block bagi penyandang disabilitas, seolah fungsi trotoar di sisi timur hanya menjadi sisa ruang di pinggir aspal.
Baca juga: Tiga Tiang Monorel di Jalan HR Rasuna Said Dibongkar, Trotoar Mulai Ditata
Lebar trotoar di sisi timur hanya sekitar 1,5 meter. Ruang sempit ini masih harus berbagi dengan berbagai rintangan permanen, seperti tiang lampu yang berkarat, kotak utilitas kabel fiber optik yang berdiri di tengah jalur, hingga pohon-pohon besar dengan akar menyembul dan merusak paving block.
Akibatnya, pejalan kaki kerap harus berjalan beriringan dalam satu baris. Di beberapa titik penyempitan ekstrem, antrean kecil pun tak terhindarkan. Orang-orang terpaksa melambat, berhenti sejenak, atau saling memberi jalan.
Jebakan lubang utilitasMasalah paling mencolok di jalur pedestrian ini adalah deretan penutup lubang utilitas atau manhole yang tidak sejajar dengan permukaan trotoar.
Banyak penutup besi terlihat menonjol ke atas, sementara sebagian lainnya justru amblas ke bawah, menciptakan jebakan berbahaya bagi pejalan kaki.
Beberapa lubang bahkan tampak terbuka sebagian, memperlihatkan kabel-kabel hitam yang semrawut di dalamnya. Paving block di sekelilingnya hancur dan berserakan menjadi kepingan tanah serta kerikil.
Saat hujan, genangan air menutupi permukaan yang tidak rata tersebut, membuat lubang dan tonjolan nyaris tak terlihat. Risiko terpeleset atau tersandung pun meningkat.
Aktivitas berjalan kaki di kawasan ini berubah menjadi perjuangan fisik yang konstan. Pejalan kaki harus terus melakukan manuver kecil untuk menghindari lubang, melangkahi besi yang menonjol, hingga mencari pijakan paling stabil.
Baca juga: Trotoar Matraman Diserobot Motor, Pejalan Kaki Khawatir Celaka





