Bandung, VIVA – Kota Bandung kembali masuk dalam daftar 20 kota termacet di dunia berdasarkan laporan terbaru TomTom Traffic Index. Posisi ini menegaskan bahwa persoalan kemacetan masih menjadi tantangan serius bagi kota besar di Indonesia.
Dalam laporan tersebut, dilihat VIVA Otomotif Rabu 21 Januari 2026, Bandung mencatat tingkat kemacetan 64,1 persen, dengan kecepatan rata-rata kendaraan sekitar 18,5 kilometer per jam. Pengguna jalan di Bandung rata-rata menghabiskan waktu hingga 129 jam per tahun di tengah kepadatan lalu lintas.
Masuknya Bandung ke jajaran 20 besar dunia menunjukkan tekanan mobilitas yang belum menunjukkan penurunan signifikan. Pertumbuhan kendaraan pribadi yang cepat dan keterbatasan kapasitas jalan masih menjadi faktor utama kemacetan di berbagai ruas kota.
TomTom Traffic Index mengukur kemacetan berdasarkan perbandingan waktu tempuh dalam kondisi lalu lintas normal dengan kondisi jalan bebas hambatan. Indeks ini digunakan secara luas untuk memetakan kinerja lalu lintas perkotaan di ratusan kota dunia.
Dalam daftar 20 kota termacet dunia, posisi teratas ditempati oleh Mexico City. Kota ini mencatat tingkat kemacetan tertinggi secara global, mencerminkan padatnya aktivitas dan mobilitas harian warganya.
Selain Mexico City, kota-kota di India mendominasi peringkat atas, seperti Bengaluru dan Pune. Tingginya kepadatan penduduk dan pertumbuhan kendaraan menjadi faktor utama di kawasan tersebut.
Kota Eropa juga masuk dalam daftar, di antaranya Dublin dan Lodz, yang mencatat tingkat kemacetan di atas 70 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kemacetan bukan hanya persoalan negara berkembang, tetapi juga dialami kota-kota maju.
Dari kawasan Amerika Latin, Bogotá, Lima, dan Arequipa turut masuk 20 besar dunia. Mobilitas perkotaan yang padat dan ketergantungan pada kendaraan pribadi menjadi tantangan umum di wilayah ini.
Sementara dari Asia Tenggara, Bangkok tercatat berada di jajaran kota termacet dunia bersama Bandung. Kondisi ini memperlihatkan kesamaan masalah lalu lintas di kota-kota metropolitan kawasan regional.



