Jakarta: Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan integrasi digital menjadi kunci daya saing ASEAN di tengah persaingan global. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.
Melalui penguatan sistem pembayaran lintas negara seperti QRIS serta percepatan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), Indonesia mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi digital kawasan yang terhubung, tepercaya, dan berkelanjutan.
"QRIS telah terhubung dengan sejumlah mitra di kawasan, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Hal ini mampu mengurangi hambatan, menekan biaya, serta memperluas akses ke pasar regional. Secara lebih luas, digitalisasi juga mendorong peningkatan produktivitas," ujar Meutya Hafid dalam WEF Fireside Keynote: New Pathways ASEAN Growth & Productivity, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 21 Januari 2026.
Meutya menyampaikan, ASEAN berada pada momen strategis untuk melangkah dari integrasi parsial menuju ekosistem digital kawasan yang utuh, interoperabel, dan berdaulat.
Baca juga: Hari Pertama WEF 2026: Isu Geopolitik dan Ancaman AI Jadi Sorotan
(QRIS. Foto: dok QRIS)
ASEAN bangun integrasi digital
Menurut Meutya, DEFA menyediakan platform untuk menyelaraskan standar, memungkinkan layanan digital lintas negara, mengurangi fragmentasi, serta memberikan kepastian regulasi bagi pelaku usaha di kawasan.
"ASEAN memiliki Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang menjadi sinyal bahwa ASEAN akan membangun integrasi digital, bukan sekadar menjadi pengikut," tutur dia.
Meutya menegaskan kesiapan Indonesia untuk bekerja sama dengan seluruh negara ASEAN dan mitra global guna memastikan transformasi digital kawasan berlangsung cepat, aman, dan inklusif.
"Kami percaya ASEAN mampu bersaing secara global dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh negara anggota ASEAN," tutur Meutya.


