Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengungkapkan penyebab angka pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 88.519 sepanjang 2025.
Indah Anggoro Putri, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemnaker menyampaikan bahwa PHK banyak melanda sektor manufaktur dan padat karya.
Secara khusus, dia menyebut kondisi ini banyak dipengaruhi oleh tekanan kinerja ekspor-impor dan dinamika geopolitik global sepanjang tahun lalu.
“Tekanan ekspor impor itu pasti, kondisi dunia pada 2025 awal sampai semester pertama kan masih ada dinamika geopolitik tinggi, ada perang dan sebagainya,” kata Indah saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Terkait dengan angka PHK yang cenderung bertambah dari tahun ke tahun, dia menyebut bahwa upaya penyelesaian tidak hanya diemban oleh Kemnaker, melainkan juga kementerian dan lembaga terkait lainnya.
Indah mengatakan bahwa pemerintah telah mengupayakan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja, salah satunya melalui program magang nasional bagi lulusan baru yang pada 2025 telah menyerap sekitar 100.000 peserta.
Baca Juga
- RI Dihantui Badai PHK Imbas Lesunya Industri Padat Karya
- Angka PHK Melonjak pada 2025, Apindo Buka Suara
- Kasus PHK Melonjak Sepanjang 2025, Buruh Ungkap Biang Keroknya
Selain itu, dia menyebut pemerintah telah melibatkan serikat buruh dalam menggelar pelatihan bagi tenaga kerja, yang juga akan dimasifkan pada tahun ini.
“Sekali lagi, mengatasi PHK itu kan bukan cuma Kementerian Ketenagakerjaan. Banyak faktor apa yang menjadi penyebab PHK. Jadi pasti ada koordinasi dan kolaborasi bersama,” ujar Indah.
Sebelumnya, Kemnaker melalui portal Satu Data Kemnaker mencatat jumlah tenaga kerja yang mengalami PHK mencapai 88.519 orang sepanjang 2025, meningkat sekitar 13,54% dari tahun sebelumnya.
Data Kemenaker menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi sepanjang 2025, yakni 18.815 orang. Jawa Tengah berada di posisi kedua dengan 14.700 pekerja ter-PHK, disusul Banten sebanyak 10.376 orang.
Adapun di DKI Jakarta, jumlah pekerja yang terkena PHK tercatat 6.311 orang, sementara Jawa Timur mencatatkan 5.949 kasus PHK sepanjang tahun lalu.



