Saham sektor perbankan merosot pada Rabu (21/1/2026) seiring Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pad
IDXChannel – Saham sektor perbankan merosot pada Rabu (21/1/2026) seiring Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada siang ini.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 14.47 WIB, indeks sektor jasa keuangan (IDXFINANCE) merosot 1,30 persen, searah dengan mayoritas sektor lainnya seiring penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 1,57 persen.
Saham bank swasta milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 3,12 persen ke Rp7.750 per unit.
Saham bank pelat merah utama, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 1,04 persen menjadi Rp3.810 per unit, PT Bank Mandiri (Persero) tergerus 1,49 persen ke Rp4.950 per unit, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) minus 0,88 persen.
Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga terkena tekanan jual, melemah 1,35 persen, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) 1,23 persen, hingga PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) 1,06 persen.
Sejatinya, penurunan saham perbankan terjadi di tengah koreksi pasar secara umum. BRI Danareksa Sekuritas menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari pergerakan indeks yang sebelumnya terbilang agresif dan beberapa kali mencetak rekor anyar.
Menurut BRI Danareksa, penguatan yang terlalu cepat kerap diikuti oleh aksi ambil untung, terutama dari pelaku pasar tertentu.
“Momentum kenaikan yang kuat sering diikuti oleh profit taking (penjualan untuk mengunci keuntungan) — terutama dari investor institusi dan pelaku pasar jangka pendek,” tulis BRI Danareksa.
Aksi tersebut, lanjut BRI Danareksa, merupakan bagian dari dinamika yang lazim terjadi dalam pasar saham.
“Ini wajar terjadi dalam siklus pasar saham: setelah reli naik, investor melakukan rebalancing portofolio untuk mengunci profit, yang kemudian memberi tekanan jual di indeks,” imbuh BRI Danareksa.
BI menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen, tidak berubah sejak September, sesuai dengan ekspektasi bulat 26 ekonom yang disurvei Reuters.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen.
"Berdasarkan asesmen dan proyeksi tersebut, Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 20 dan 21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate tetap sebesar 4,75 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Perry menerangkan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu pada stabilitasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, guna mencapai sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, kata Perry, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makro prudensial yang telah ditempuh selama ini.
"Dan mencermati ruang penurunan suku bunga BI rate lebih lanjut dengan perkiraan inflasi 20262027 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen, serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," kata dia.
Sebelumnya, BI telah memangkas suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 150 basis poin dalam periode September 2024 hingga September 2025. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





