EtIndonesia. Situasi di Iran terus bergerak menuju titik yang semakin berbahaya. Sejak gelombang protes nasional kembali merebak pada akhir 2025 dan berlanjut hingga Januari 2026, rakyat Iran tetap turun ke jalan meski menghadapi penindasan brutal dan sistematis dari aparat keamanan negara.
Berbagai sumber independen, termasuk laporan aktivis HAM dan bocoran dari jaringan internal Iran, menunjukkan bahwa jumlah korban tewas diduga jauh melampaui angka resmi pemerintah. Sejumlah estimasi menyebutkan korban jiwa berpotensi melampaui 20.000 orang, meskipun angka pasti sulit diverifikasi akibat pemutusan internet, sensor ketat media, serta kriminalisasi pelaporan di dalam negeri.
Di balik tindakan represif tersebut, berlangsung pertarungan terbuka antara rakyat dan kekuasaan otoriter. Pertanyaan besar pun menggema di komunitas internasional: sampai kapan masyarakat yang ditekan secara sistematis dapat bertahan sebelum terjadi perubahan besar yang tak terhindarkan?
Tekanan Sosial di Tiongkok: Amarah yang Terakumulasi dalam Keheningan
Sementara sorotan dunia tertuju pada Iran, tekanan sosial di Tiongkok juga terus menumpuk secara diam-diam. Sepanjang 2024 hingga 2025, pelemahan ekonomi berkepanjangan, meningkatnya pengangguran kaum muda, kesulitan biaya hidup, serta berbagai ketidakadilan struktural telah memperbesar rasa frustrasi publik.
Pada akhir 2025, sebuah video viral yang beredar luas di media sosial luar negeri memperlihatkan seorang pria Tiongkok secara terbuka menantang sensor negara.
Dengan suara lantang, dia berkata: “Mereka ingin kita takut dan bungkam. Tapi hari ini, kita tidak takut lagi. Segala bentuk kekuasaan dan penindasan—kami tidak akan menerimanya!”
Unggahan tersebut segera memicu reaksi berantai. Kolom komentar dibanjiri seruan seperti: “Bangkit bersama! Kita harus bersatu sebagai satu rakyat!”
Teriakan ini dianggap banyak pengamat sebagai indikasi adanya kekuatan sosial laten—kemarahan yang selama ini tertahan di balik kontrol ketat dan keheningan paksa.
Data Protes: Lonjakan Signifikan Sejak 2022
Berbeda dengan citra “stabil” yang kerap diproyeksikan negara, data menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks. Menurut China Dissent Monitor yang dikelola oleh Freedom House, sejak Juni 2022 hingga Desember 2025 telah tercatat sekitar 13.200 aksi protes dan pembangkangan di seluruh Tiongkok.
Angka tersebut berarti rata-rata lebih dari 300 aksi per bulan. Lebih mencolok lagi, tahun 2025 mencatat lonjakan paling tajam, dengan peningkatan sekitar 45% secara tahunan pada kuartal ketiga, serta enam kuartal berturut-turut mengalami tren pertumbuhan.
Data ini mengindikasikan bahwa ketidakpuasan publik bukanlah fenomena sporadis, melainkan akumulasi tekanan sosial jangka panjang.
Mengapa Belum Meledak Jadi Aksi Massa Nasional?
Aktivis pembangkang asal Zhejiang, Dai Liren, dalam pernyataannya kepada media internasional pada akhir 2025, menegaskan bahwa rakyat Tiongkok bukanlah masyarakat yang sepenuhnya pasrah. Dia mengingatkan bahwa sejarah Tiongkok sarat dengan pemberontakan, dan semangat melawan tirani telah lama mengakar dalam budaya politiknya.
Namun, menurut Dai Liren, ada dua faktor utama yang hingga kini menghambat terbentuknya gerakan massa berskala nasional:
- Trauma kolektif akibat peristiwa 4 Juni 1989 (Tiananmen), yang meninggalkan ketakutan mendalam lintas generasi terhadap konsekuensi politik.
- Pemanfaatan teknologi canggih oleh PKT, termasuk kecerdasan buatan, big data, dan pengenalan wajah, yang memecah individu menjadi unit-unit terisolasi. Akibatnya, protes daring sulit berkembang menjadi konsensus dan aksi luring yang terkoordinasi.
Dalam banyak kasus, suara perlawanan segera dihapus, akun media sosial diblokir, dan para pelakunya dipanggil, diintimidasi, atau dimintai pertanggungjawaban hukum.
Dampak Jangka Panjang: Tekanan Psikologis hingga Fisik
Para pakar menilai bahwa tekanan berlapis seperti ini tidak hanya berdampak pada emosi dan psikologis masyarakat, tetapi juga menggerogoti kondisi fisik secara perlahan. Stres berkepanjangan, ketidakpastian ekonomi, dan rasa tidak berdaya diyakini berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan di kalangan warga.
Baik di Iran maupun Tiongkok, tanda-tanda ini memperlihatkan retakan struktural di balik permukaan stabilitas. Meski saat ini masih ditekan, banyak pengamat meyakini bahwa energi sosial yang terakumulasi tidak akan menghilang—hanya menunggu momen untuk dilepaskan.




