Pada pertengahan 1980-an, untuk pertama kali, Indonesia menyelenggarakan pameran kedirgantaraan berskala internasional terbesar.
Pameran Kedirgantaraan Indonesia atau Indonesia Air Show 1986 diselenggarakan di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta. Pameran yang berlangsung pada 23 Juni hingga 1 Juli 1986 itu menampilkan 60 pesawat tempur, sipil, dan helikopter, serta diikuti 235 perusahaan dari 22 negara, antara lain, Amerika Serikat, Belanda, Perancis, Jepang, Australia dan Singapura.
Meski baru pertama kali digelar, Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPPT BJ Habibie selaku pemrakarsa dan koordinator penyelenggara Indonesia Air Show mengatakan, bobot pameran setaraf dengan pameran serupa di Hannover, Jerman.
Hal itu berarti Indonesia Air Show hanya berada satu tingkat di bawah pameran Le Bourget atau Paris Air Show, Perancis, dan pameran Farnborough di Inggris.
Kedua pameran itu dianggap menempati level tertinggi dalam kancah pameran kedirgantaraan dunia.
Pameran dibuka secara resmi oleh Presiden Soeharto pada Senin, 23 Juni 1986 pagi. ”Hari ini merupakan hari yang akan dicatat dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan kedirgantaraan Indonesia. Tidak banyak negara yang mampu menyelenggarakan pameran kedirgantaraan internasional seperti ini,” ujar Presiden Soeharto.
Selain itu, Presiden juga menyampaikan arti penting memiliki sendiri industri pesawat terbang. Bukan hanya karena wilayah Indonesia yang luas dengan banyak pulau sehingga membutuhkan transportasi udara dan laut yang besar, melainkan juga pentingnya penguasaan teknologi supaya tidak bergantung kepada negara lain.
Tidak hanya untuk promosi, dagang, dan sharing ilmu pengetahuan, Indonesia Air Show bagi sebagian besar pengunjung merupakan ajang pengenalan teknologi dan atraksi yang sangat menghibur.
Hal itu terutama dengan hadirnya pesawat tempur supersonik seperti F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet, dan Mirage 2000, serta C-101 Aviojet buatan CASA Spanyol.
Akrobatik udara pada hari pembukaan diawali oleh helikopter NBO-105 buatan IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) berdasarkan lisensi MBB Jerman. Menyusul kemudian terbang lintas helikopter dan pesawat buatan IPTN lainnya, seperti Bell 217, Super Puma, CN 235 Tetuko, dan Cassa 212 Aviocar. Tiga Pitts S 25 Royal Falcon dari tim aerobatik Jordania juga turut tampil.
Kejutan di hari pertama dirasakan para pengunjung saat siang hari ketika 11 pesawat HS Hawk dari tim aerobatik The Red Arrows Inggris melintas sebelum mendarat di Bandara Kemayoran dan menuju hanggar.
The Red Arrows baru menunjukkan aksinya pada hari berikutnya. Melesat dalam dua kelompok, sembilan pesawat Hawk ini secara cepat mengubah susunan pesawat di udara. Diawali dengan Big Nine yang membentuk huruf V terbalik, disusul dengan bentuk berlian.
Komposisi udara lain, seperti Apollo, Concorde, dan Feathered Arrow, juga turut ditampilkan. Adegan yang paling mendebarkan tentu saja saat dua pesawat saling terbang berhadapan dan pada satu titik temu keduanya berkelit. Sambil melesat, kedua pesawat itu berputar-putar.
Sayangnya, Rusia (saat itu Uni Soviet), yang pada awalnya akan berpartisipasi dalam Indonesia Air Show, membatalkan rencana untuk ikut pameran sebulan sebelum kegiatan berlangsung.
Penyelenggara sebenarnya juga sudah memenuhi permintaan Soviet untuk menyediakan area pameran khusus seluas 800 meter persegi.
Sebelum pembatalan tersebut, Soviet dikabarkan akan membawa pesawat angkut terbesar di dunia produksi mereka, yakni An-124, yang dijuluki Condor oleh NATO.
Penyelenggaraan Indonesia Air Show 86 benar-benar menyedot animo pengunjung. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung Indonesia Air Show membeludak. Pada Sabtu, 28 Juni 1986, jumlah pengunjung mencapai sekitar 500.000 orang.
Jumlah itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan satu hari sebelumnya. Sejak pukul 07.00 WIB, pengunjung sudah memadati lokasi pameran meskipun 13 loket tiket yang disediakan baru buka pada pukul 10.00 WIB. Karena desakan massa yang sudah berjubel, loket akhirnya dibuka lebih awal. Tiket masuk ke area pameran untuk umum dijual Rp 1.500.
Indonesia Air Show sempat kembali diselenggarakan pada 1996 atau sepuluh tahun kemudian. Penyelenggaraan yang kedua ini berlangsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Namun, krisis ekonomi dan politik pada 1998 membuat penyelenggaraan Indonesia Air Show terhenti.
Bahkan, hingga beberapa dekade setelah Indonesia Air Show ke-2, belum ada pameran kedirgantaraan internasional berskala besar yang diselenggarakan kembali.
Beberapa tahun terakhir sejumlah pameran kedirgantaraan sempat hadir, tetapi masih dalam skala yang lebih kecil daripada Indonesia Air Show.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5060386/original/097944100_1734756262-1734752057263_tips-menghemat-air.jpg)