Rupiah Hampir Rp 17 Ribu, Bank Indonesia Siap Intervensi Besar-besaran

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan tidak akan ragu melakukan intervensi besar-besaran untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan domestik. Pernyataan itu disampaikan Perry seiring dinamika nilai tukar yang sempat bergejolak.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup menguat 20 poin atau 0,12 persen ke level Rp 16.936 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah BI meningkatkan intensitas langkah stabilisasi di pasar keuangan.

Perry menekankan, bank sentral telah menyiapkan seluruh instrumen kebijakan dan tidak segan masuk ke pasar dalam skala besar demi meredam volatilitas rupiah.

“Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, Perry menyoroti meningkatnya ketidakpastian akibat geopolitik serta kebijakan tarif Amerika Serikat.

Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury di berbagai tenor turut mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang ke negara maju.

“Tadi kami sampaikan itu terkait tentu saja kondisi global baik karena geopolitik kemudian juga kebijakan tarif Amerika tapi juga tingginya us treasury yield baik 2 tahun, 3 tahun. Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika,” ungkapnya.

Tekanan global tersebut tercermin dari arus modal yang keluar dari pasar keuangan domestik sejak awal tahun. “Pada tahun 2026 ini terjadi net outflow USD 1,6 miliar, data hingga 19 Januari 2026,” imbuhnya.

Selain faktor global, Perry mengakui adanya faktor domestik yang turut mempengaruhi rupiah. Kebutuhan valuta asing yang besar dari sektor perbankan dan korporasi menjadi salah satu penyebabnya, seiring dengan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan.

“Juga ada faktor-faktor domestik tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,” kata dia.

Meski demikian, Perry menegaskan proses pencalonan Deputi Gubernur BI berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan tidak mengganggu independensi maupun profesionalisme bank sentral.

Ia juga mengingatkan pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di banyak negara lain. Untuk menopang langkah stabilisasi, BI mengandalkan posisi cadangan devisa yang dinilai sangat memadai. Perry menegaskan cadangan devisa tersebut memang disiapkan untuk digunakan ketika tekanan muncul di pasar.

“Langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang kami tingkatkan itu juga didukung oleh kecukupan cadangan devisa. Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tegasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Blue Bird (BIRD) Jalin Kolaborasi dengan Tahilalats, Bidik Pelanggan Generasi Muda
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
PSIM Hormati Sanksi Komdis PSSI untuk Ze Valente, Siap Ganti Kerusakan Fasilitas Stadion
• 10 jam lalubola.com
thumb
Polres Gresik Tilang Sopir Bus Trans Jatim yang Dilaporkan Ugal-Ugalan
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Banjir Sumatera, Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan yang Diduga Langgar Aturan | KOMPAS MALAM
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkab Sidoarjo Khitan Gratis 165 Anak
• 22 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.