EtIndonesia. Setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara tiba-tiba menghentikan rencana serangan langsung terhadap Iran pada pertengahan Januari 2026, perhatian Gedung Putih dalam dua hari terakhir tampak beralih ke isu Pulau Greenland serta diplomasi intensif dengan negara-negara Eropa.
Namun, komunitas internasional justru semakin waspada. Banyak pihak menilai langkah Trump berpotensi merupakan manuver pengalihan perhatian, sementara opsi militer terhadap Iran tetap disiapkan dan bisa dijalankan sewaktu-waktu dengan skala yang lebih mematikan.
Korban Jiwa Melonjak Tajam, Data Resmi Dipertanyakan
Menurut laporan The Sunday Times, Inggris yang merujuk pada data statistik terbaru, sejak operasi penindasan besar-besaran dimulai akhir Desember 2025, jumlah korban di Iran telah mencapai 16.000–18.000 orang tewas, dengan 330.000–360.000 orang terluka.
Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat data resmi yang diumumkan pemerintah Iran, memperkuat dugaan bahwa skala kekerasan yang terjadi selama protes nasional telah ditutup-tutupi secara sistematis.
Dugaan Penggunaan Senjata Kimia: Gas Berbasis Klorin?
Isu yang paling mengguncang opini global dalam sepekan terakhir adalah dugaan penggunaan senjata kimia terhadap demonstran.
Media Inggris, GB News pada pekan sebelumnya pertama kali mengungkap indikasi penggunaan gas beracun oleh aparat keamanan Iran. Informasi lanjutan menyebutkan bahwa selain gas air mata, aparat juga diduga menggunakan gas lain yang menyelimuti jalan-jalan kota.
Meski sudah lebih dari 10 hari berlalu, warga di sejumlah wilayah masih melaporkan sakit kepala berat, jantung berdebar, dan kelelahan ekstrem. Para pakar toksikologi menilai, berdasarkan gejala fisik dan karakteristik bau, gas tersebut sangat mungkin merupakan zat beracun berbasis klorin.
Uni Eropa Bersiap Menjatuhkan Sanksi Baru
Kebrutalan penindasan ini kembali mengguncang Eropa. Hingga 20 Januari 2026, Uni Eropa dilaporkan tengah memfinalisasi paket sanksi baru terhadap Iran.
Sanksi tersebut mencakup:
- Program drone dan rudal
- Struktur pendanaan militer
- Tindakan represif terhadap demonstran sipil
Sebagai respons, Teheran mengancam bahwa dukungan Eropa terhadap Trump dapat memicu kekacauan regional, serta memperingatkan Washington agar tidak menargetkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, karena hal tersebut akan dianggap sebagai pemicu “jihad suci”.
Ancaman ini dinilai banyak analis sebagai indikator kepanikan elite Iran yang telah mencapai titik ekstrem.
Retakan Elite: Pembelotan dan Penangkapan Tokoh Moderat
Dalam beberapa hari terakhir, tanda-tanda keretakan internal rezim Iran semakin nyata.
Setelah sebelumnya seorang diplomat Iran membelot, pada 19 Januari 2026 terungkap bahwa pejabat aktif Kementerian Dalam Negeri Iran juga melarikan diri dan secara terbuka menyerukan intervensi internasional, termasuk keterlibatan langsung Trump.
Sementara itu, Channel 14 Israel melaporkan bahwa Mohammad Javad Zarif, mantan Menteri Luar Negeri Iran, diduga secara diam-diam berkomunikasi dengan Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, selama periode protes berlangsung.
Informasi tersebut disebut telah disampaikan Zarif kepada mantan Presiden Hassan Rouhani. Keduanya dilaporkan ditangkap oleh Garda Revolusi Iran.
Zarif dan Rouhani dikenal sebagai figur faksi moderat, yang sejak lama berseteru dengan kelompok garis keras. Presiden saat ini, Masoud Pezeshkian, juga dinilai relatif moderat dan memiliki hubungan dekat dengan keduanya, meski sejauh ini belum ada kepastian apakah ia mengetahui komunikasi tersebut.
Garda Revolusi Retak, Ledakan Misterius di Tabriz
Pada saat yang sama, Channel 12 Israel mengungkap adanya gelombang pembelotan di tubuh Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Basij.
Saluran oposisi Iran juga melaporkan ledakan besar di sekitar Pangkalan Udara Garda Revolusi di Tabriz, Iran barat laut. Hingga 20 Januari 2026, penyebab ledakan masih belum diketahui secara resmi.
Rusia dan Tiongkok Turun Tangan
Pada 16 Januari 2026, tepat sebelum dan sesudah pergerakan kapal induk AS, Presiden Rusia, Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Presiden Pezeshkian. Kremlin merilis tiga pesan utama:
- Rusia tidak akan meninggalkan Iran
- Moskow siap memberi dukungan non-militer
- Rusia akan berupaya menghambat langkah AS di PBB
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan mulai menerima dukungan persenjataan dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dalam 56 jam terakhir, sedikitnya 16 pesawat angkut militer Y-20 terdeteksi terbang langsung menuju Teheran.
Menurut South China Morning Post, Iran telah menerima:
- Sistem rudal jarak jauh HQ-9B
- Radar peringatan dini buatan Tiongkok
- Sistem pertahanan udara S-400 Rusia
Langkah terbuka ini dinilai sebagai persiapan Beijing menghadapi kemungkinan konflik besar Iran–AS.
Opini Publik Tiongkok Berbalik Arah
Menariknya, perlawanan rakyat Iran justru mengguncang opini publik di Tiongkok. Setelah internet Iran dilaporkan pulih sebagian, kolom komentar media resmi PKT meledak oleh kecaman terhadap rezim Iran.
Banyak warganet menyebut pemerintah Iran sebagai “iblis yang memadamkan lampu lalu membunuh”, bahkan secara terang-terangan berharap Amerika Serikat menghancurkan rezim tersebut.
Sebuah video yang mengklaim jurnalis PKT dipukuli massa Iran juga sempat viral, sebelum menghilang dari platform Douyin pada 20 Januari 2026.
Manuver Militer AS: Pengepungan Perlahan
Berdasarkan pelacakan penerbangan dan data militer terbuka, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah melintasi Selat Malaka, memasuki Teluk Benggala dan Samudra Hindia, dan kini bergerak menuju Laut Arab bagian utara.
Saat melintas di Selat Malaka, kapal kargo Iran Alvin sempat terdeteksi mendekati USS Lincoln. Tak lama setelah itu, sistem pelacakan kapal induk tersebut dimatikan.
Sumber internal menyebutkan USS Lincoln berpotensi memasuki wilayah Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam 72 jam ke depan.
Selain itu:
- 12 jet tempur F-15 AS telah memasuki Yordania (total kini 35 unit)
- F-15E Strike Eagle dari Skuadron Ekspedisi ke-494 tiba di pangkalan Timur Tengah
- AS mengerahkan sistem drone laser di pangkalan udara Kuwait
- Pemerintah baru Suriah diumumkan sebagai mitra utama AS melawan ISIS
Netanyahu ke Gedung Putih, Serangan Tinggal Menunggu Waktu?
Laporan terbaru menyebutkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih pada pertengahan Februari 2026 untuk bertemu Trump.
Pertanyaan besar pun muncul di kalangan analis: apakah serangan besar AS terhadap Iran akan diputuskan dan dieksekusi antara akhir Januari hingga awal Februari 2026?
Jawabannya masih menggantung—namun semua indikator menunjukkan bahwa krisis Iran kini telah memasuki fase paling berbahaya sejak Revolusi Islam 1979.





