PANGKEP, KOMPAS - Kotak hitam pesawat ATR 42-500 ditemukan dan dibawa ke posko utama. Alat rekaman data penerbangan dan perekam suara dalam kokpit ditemukan di ekor pesawat. Sementara itu, delapan korban lainnya belum ditemukan.
Kotak hitam itu terlihat utuh saat ditunjukkan di posko utama SAR gabungan, di Desa Tompobulu, Pangkep, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026) petang. Satu bertuliskan Flight Data Recorder, sementara satu kotak lainnya bertuliskan Cockpit Voice Recorder.
“Tim SAR gabungan berhasil mendapatkan, mudah-mudahan ini yang dicari-cari. Kalau sesuai dari KNKT, dan internet, inilah rangkaian black box, ada dua macam di depan kita,” kata Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayor Jenderal Bangun Nawoko.
Menurut Bangun, tim SAR gabungan hanya bertugas mencari dan menemukan. Setelahnya, kedua benda itu akan diserahkan ke pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Untuk menemukannya, tim mencari di sekitar ekor pesawat dan berhasil tiba di lokasi tersebut. Lokasi ekor pesawat berada di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter. Setelah observasi, alat tersebut berhasil dibawa ke posko utama.
“Ini adalah kerja bersama dari tim SAR gabungan hingga berhasil menemukan yang dicari. Hari ini, kita total menugaskan 16 tim untuk melakukan pencarian dan evakuasi,” tambahnya.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan, penemuan perangkat ini merupakan bagian krusial dalam rangkaian penanganan kecelakaan pesawat.
“Black box yang ditemukan terdiri dari Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder. Keduanya ditemukan di sekitar badan pesawat oleh tim SAR gabungan saat melakukan penyisiran lanjutan di sektor pencarian,” ujarnya.
Ia menerangkan, Flight Data Recorder (FDR) berfungsi untuk merekam berbagai parameter penerbangan, seperti ketinggian, kecepatan, arah, posisi pesawat, hingga kinerja mesin. Data tersebut sangat penting untuk membantu pihak berwenang merekonstruksi kronologi penerbangan sebelum kecelakaan terjadi.
Sementara itu, Cockpit Voice Recorder (CVR) merekam percakapan di dalam kokpit, termasuk komunikasi antar awak pesawat dan suara-suara penting lainnya selama penerbangan.
“Secara umum, perangkat FDR dan CVR disimpan di bagian ekor pesawat. Penempatan ini dirancang karena area ekor dinilai memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi saat terjadi benturan, sehingga peluang penyelamatan data menjadi lebih besar,” jelas Arif.
Ia menambahkan, setelah ditemukan, black box akan segera diamankan dan diserahkan kepada pihak berwenang yaitu KNKT yang berwenang melakukan investigasi lanjutan sesuai prosedur yang berlaku.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Makassar Andi Sultan menjelaskan, sesuai rencana operasi pencarian di mana salah satu fokus adalah pencarian kotak hitam, berhasil menemukan dan mengevakuasi barang yang diduga kotak hitam tersebut.
“Selain temuan kotak hitam, tim menemukan satu bagian tubuh yang telah diserahkan ke DVI. Selain itu, ada beberapa identitas dan dokumen, paspor, serta ponsel dan laptop,” kata Sultan.
Sementara itu, delapan korban lainnya belum ditemukan. Tim terus mencari dan akan melanjutkan pencarian pada esok hari. Cuaca buruk terus menerjang para tim pencari di hari kelima operasi dilangsungkan.
Pesawat ATR 42-500 ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.
Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut melakukan penerbangan dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dipiloti Kapten Andy Dahananto.
KNKT memastikan pesawat ATR 42-500 menabrak Gunung Bulusaraung. Kecelakaan ini diklasifikasikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), atau kondisi pesawat dalam kontrol namun menabrak sesuatu. Pesawat berpenumpang total 10 orang ini menabrak gunung setinggi 1.353 meter dari permukaan laut.





