FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan turut menyoroti pidato Perdana Menteri Kanada, di World Economic Forum, Davos, yang berlangsung 19-23 Januari 2026.
“Kemarin PM Kanada Mark Carney berpidato di World Economic Forum, Davos, dan rasanya perlu kita simak. Ia bicara blak-blakan, mengakui secara terbuka bahwa tatanan dunia yang katanya berbasis hukum dan keteraturan itu ternyata selama ini penuh kepura-puraan,” kata Anies Baswedan di akun media sosialnya, Rabu (21/1).
Dia menebutkan, negara-negara besar sering mengecualikan diri mereka dari tata aturan, aturan perdagangan diterapkan berat sebelah, dan ketat atau longgarnya penegakan hukum internasional itu tergantung pada siapa pelaku dan siapa korbannya. PM Carney menyebutnya “living within a lie”, bahwa mereka semua hidup dalam kebohongan yang selama ini mereka pelihara sama-sama.
“Beberapa waktu lalu saya pernah twit soal perlunya negara-negara Global South bersatu supaya tidak mudah disetir dan diintervensi kekuatan besar. Menariknya, kegelisahan ini ternyata juga dirasakan negara menengah di belahan Utara seperti Kanada,” ungkap Anies Baswedan.
Dia menambahkan bawah, PM Carney juga sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa kalau negara menengah hanya bernegosiasi sendiri-sendiri dengan negara besar, maka kita akan bernegosiasi dari posisi lemah. Kita malah jadi saling sikut, berlomba jadi yang paling tunduk. Jelas itu tidak bisa disebut sebagai kedaulatan.
Kenyataannya, dunia kini sudah berubah. Sudah multipolar, sudah sangat dinamis. PM Carney mengajak negara-negara menengah untuk bangun dan sadar akan kenyataan ini, lalu mulai membangun koalisi yang fleksibel. Beda isu bisa beda mitra, tak harus loyal buta pada satu polar, sambil terus memperkuat ekonomi di dalam negeri.
“Pesan itu jadi sangat relevan juga untuk Indonesia. Diplomasi harus proaktif, tak bisa netral yang pasif. Membangun jembatan, jangan sekadar ikut arus,” imbuhnya.
Kanada bicara dari posisi negara menengah Barat. Sedangkan Indonesia bisa mengambil peran sebagai jembatan antara negara-negara menengah Barat yang mulai melek ini dengan Global South yang sudah lama merasakan ketidakadilan tatanan dunia. Anies Baswedan menyebut, Indonbesia punya legitimasi di kedua sisi.
“Di tengah dunia yang makin terpecah, justru negara-negara menengah punya kesempatan membentuk tatanan baru yang lebih adil. Syaratnya, harus berani bergerak bersama,” tandasnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengatakan bahwa sistem pemerintahan global yang dipimpin AS sedang mengalami keretakan, yang ditandai dengan persaingan kekuatan besar dan tatanan berbasis aturan yang memudar.
Pidatonya kepada para elit politik dan keuangan di Forum Ekonomi Dunia disampaikan sehari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan untuk berpidato di pertemuan tersebut di Davos, Swiss.
Sejak memasuki dunia politik Kanada pada tahun 2025, Carney telah berulang kali memperingatkan bahwa dunia tidak akan kembali ke keadaan normal sebelum era Trump.
Ia menegaskan kembali pesan tersebut pada hari Selasa, dalam pidato yang tidak menyebut nama Trump tetapi menawarkan analisis tentang dampak presiden terhadap urusan global.
“Kita berada di tengah-tengah keretakan, bukan transisi,” kata Carney.
Ia mencatat bahwa Kanada telah memperoleh manfaat dari tatanan internasional berbasis aturan lama, termasuk dari hegemoni Amerika yang membantu menyediakan barang publik: jalur laut terbuka, sistem keuangan yang stabil, keamanan kolektif, dan dukungan untuk kerangka kerja penyelesaian sengketa. ”Realitas baru telah muncul,” kata Carney.
“Sebut saja apa adanya: sistem persaingan kekuatan besar yang semakin intensif di mana yang paling kuat mengejar kepentingan mereka menggunakan integrasi ekonomi sebagai paksaan,” tandasnya.
Dalam peringatan yang jelas terhadap upaya untuk menenangkan kekuatan besar, Carney mengatakan negara-negara seperti Kanada tidak lagi dapat berharap bahwa kepatuhan akan membeli keamanan.
“Pertanyaan bagi kekuatan menengah, seperti Kanada, bukanlah apakah harus beradaptasi dengan realitas baru ini. Kita harus. Pertanyaannya adalah apakah kita beradaptasi hanya dengan membangun tembok yang lebih tinggi – atau apakah kita dapat melakukan sesuatu yang lebih ambisius,” jelasnya.
“Kekuatan menengah harus bertindak bersama, karena jika kita tidak berada di meja perundingan, kita akan menjadi santapan,” kata Carney.
Dia menyebut, negara-negara besar untuk saat ini mampu bertindak sendiri. Mereka memiliki ukuran pasar, kapasitas militer, dan pengaruh untuk mendikte persyaratan. Negara-negara menengah tidak. (fajar)



