GenPI.co - Perusahaan teknologi kini fokus mengembangkan perangkat audio bertenaga kecerdasan buatan (AI) generatif.
Selama bertahun-tahun, perusahaan rintisan (startup) telah mencoba memperluas fungsi headphone dari sekadar mendengarkan musik atau melakukan panggilan telepon.
Hampir satu dekade lalu, Waverly Labs dan Mymanu menambahkan terjemahan real-time, sedangkan Google mengikuti dengan asisten AI berbasis suara pada 2020.
Gelombang ini kemudian diikuti raksasa teknologi seperti Samsung dan Apple dengan fitur peredam kebisingan yang kini hampir menjadi standar.
Banyak startup yang fokus menyempurnakan teknologi ini untuk penggunaan khusus seperti yang dilakukan OSO dengan konsep asisten profesional.
Earbud OSO bisa merekam rapat dan mengekstrak elemen percakapan secara otomatis dengan bahasa sehari-hari.
Sementara itu, Viaim menawarkan layanan serupa dengan fokus pada interoperabilitas agar perangkatnya bisa digunakan di berbagai ponsel pintar.
"Jika kamu menggunakan merek ponsel selain iPhone, perangkat AI tidak tersedia. Di sinilah peluang earbud kami," kata CEO Viaim Shawn Ma, dilansir AFP, Selasa (20/1).
Timekettle mengambil pendekatan berbeda, dengan 90 persen penjualannya ditujukan untuk anak sekolah.
Earbud Timekettle membantu siswa non-Inggris mengikuti pelajaran tanpa penerjemah.
Presiden Techsponential Avi Greengart menilai earbud sebagai pintu masuk paling mudah diakses ke dunia AI.
"Harganya lebih murah dan dimiliki sebagian besar pengguna ponsel," katanya.
Sementara itu, startup Naqi Logix membayangkan sensor masa depan yang mampu membaca ekspresi wajah, sehingga chatbot bisa menyesuaikan nada dan kata mengikuti suasana hati.
Bahkan, startup Neurable bermimpi membuat headset MW75 Neuro LT yang bisa membaca aktivitas otak, memungkinkan komunikasi tanpa kata-kata atau gerakan fisik. (*)
Video heboh hari ini:





