Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 36 Bojonegoro.
Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog langsung dengan para siswa dan orang tua untuk mendengarkan cerita perubahan yang dirasakan sejak anak-anak mereka menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Setibanya di SRMA 36 Bojonegoro, Gus Ipul disambut karya seni lukis hasil kreativitas siswa-siswi. Ia menyempatkan diri mengamati dan mengapresiasi karya tersebut sebagai cerminan bakat dan potensi anak-anak Sekolah Rakyat yang terus tumbuh.
Salah satu siswa, Ahmad Halim (15), asal Kecamatan Tambakrejo, mengaku antusias dapat bertemu langsung dengan Menteri Sosial. Anak dari seorang buruh tani yang bercita-cita menjadi presiden itu mengatakan kunjungan Gus Ipul memacu semangat belajarnya.
“Deg-degan, tapi senang bisa ngobrol langsung dengan Pak Menteri,” ujar Halim sumringah.
Suasana haru terasa saat Aji Supangat (15), siswa asal Kecamatan Sidomulyo, dipanggil naik ke atas panggung bersama ibunya, Sri Asih. Di hadapan hadirin, Aji dipersilakan memeluk sang ibu.
Sri Asih mengungkapkan banyak perubahan yang dialami putranya selama sekitar enam bulan bersekolah di SRMA 36 Bojonegoro, terutama dalam sikap dan kedisiplinan.
Cerita serupa disampaikan para orang tua lainnya. Sri Rohana, ibu dari Eliana Ayatul Khusna asal Kelurahan Mlaten yang bekerja sebagai petani, mengungkapkan anaknya kini lebih disiplin dan memiliki kelapangan hati dalam menerima kondisi keluarga.
“Selama di sini banyak perubahan,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, seorang orang tua siswa juga menyampaikan bahwa perubahan anak terlihat dari kedisiplinan ibadah, cara berbicara yang lebih sopan, serta kemampuan menerima keadaan keluarga.
Menurutnya, pendampingan guru dan pengasuh asrama membantu anaknya kembali percaya diri dalam pergaulan serta lebih teratur dalam menjalankan ibadah.
“Dulu waktu SMP bangunnya siang, sekarang sudah lebih pagi, sholatnya juga lebih teratur. Dari sekolah rakyat ini sangat-sangat membantu saya dan suami, dari segi pendidikan dan ekonomi,” ungkapnya.
Siti Mutmainah, ibu dari Aberliani Zifara Kanaya Julia Putri asal Kecamatan Ngasem yang bekerja sebagai buruh tani, menyampaikan rasa syukurnya atas keberadaan Sekolah Rakyat.
“Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Menteri, dan pemerintah daerah. Anak saya empat, jujur untuk pendidikan sangat berat. Dengan adanya program ini sangat membantu keluarga kami,” tuturnya.
Menanggapi berbagai testimoni tersebut, Mensos Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya menyekolahkan anak, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan keluarga.
“Jadi nanti anaknya disekolahkan, rumah orang tuanya dibenahi agar lebih layak huni,” kata Gus Ipul.
Ia mencontohkan salah satu siswa Sekolah Rakyat di Makassar bernama Naila, yang keluarganya juga mendapatkan perbaikan rumah. Menurut Gus Ipul, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden.
“Ini adalah instruksi dari Presiden, saya hanya memperantarai untuk arahan ini,” ungkapnya.
Gus Ipul juga memaparkan konsep pendidikan Sekolah Rakyat yang berjenjang dari SD, SMP hingga SMA. Di Kabupaten Bojonegoro, Sekolah Rakyat direncanakan menerima 300 siswa setiap tahun, masing-masing 100 siswa untuk tiap jenjang. Seleksi dilakukan tanpa tes akademik, melainkan melalui pemetaan bakat atau DNA talent.
Ia menjelaskan bahwa lulusan Sekolah Rakyat akan didorong sesuai minat dan potensinya, baik melanjutkan ke perguruan tinggi dengan dukungan beasiswa, termasuk beasiswa dari Presiden Prabowo Subianto, maupun mengikuti pendidikan keterampilan bagi yang ingin langsung bekerja.
Dalam kesempatan tersebut, Mensos Gus Ipul juga menyoroti pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Seluruh siswa dan guru difasilitasi laptop serta papan tulis digital interaktif yang terhubung dalam sistem pembelajaran.
“Ini menyiapkan generasi yang akan datang supaya nanti kalau sudah lulus tidak gagap teknologi,” ujarnya.
Gus Ipul menambahkan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem boarding school. Setelah kegiatan belajar mengajar hingga sore hari, siswa mengikuti pendidikan karakter dan keagamaan di asrama dengan pendampingan wali asrama dan wali asuh yang berperan sebagai orang tua kedua.
Kepala SRMA 36 Bojonegoro, Muhammad Shobirin, menyampaikan bahwa para siswa menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi karakter maupun keberanian berbicara di depan umum.
“Kami mengintensifkan pelajaran seperti bahasa Inggris dan public speaking. Awal mereka di sini masih grogi saat laporan apel malam, sekarang alhamdulillah sudah berani,” jelasnya.
Ia menambahkan, dua siswa SRMA 36 Bojonegoro bahkan berhasil meraih medali di bidang akademik, yakni fisika dan bahasa Inggris.
Pada akhir kunjungan, Mensos Gus Ipul menegaskan pentingnya menjaga integritas dalam proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat. Ia menekankan agar tidak ada praktik titip-menitip maupun kecurangan dalam seleksi.
“Seleksi siswa Sekolah Rakyat harus bersih dari korupsi. Tidak boleh sogok-menyogok, tidak boleh titip-menitip. Semua berbasis data, didatangi ke rumahnya, dicek, baru bisa resmi menjadi siswa Sekolah Rakyat,” tegasnya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478715/original/019696600_1768914951-000_33KA2FW.jpg)


