Bisnis.com, JAKARTA — Perum Bulog menanggapi kabar adanya lonjakan harga beras di Provinsi Aceh pascabencana banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal menegaskan harga beras di Aceh tetap stabil dan terjangkau. Dia pun menepis klaim adanya kenaikan harga di wilayah terdampak banjir itu.
“Di mana yang mahal? Nggak ada [beras di Aceh] yang mahal. Nggak ada yang mahal,” kata Rizal saat ditemui seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senanya, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Sebelumnya, Anggota DPR Komisi VI Mufti Anam menyebut masyarakat Aceh mengeluhkan tingginya harga beras, terutama pada Januari 2026, di tengah menurunnya daya beli pascabencana.
“Nggak usah ngomong Desember, yang terbaru saja Januari 2026 ini banyak sekali masyarakat di Aceh hari ini, mereka sudah daya belinya turun, tapi kemudian mereka nyari beras ini mahalnya luar biasa,” ujar Mufti.
Mufti juga mempertanyakan keberadaan stok beras yang dikuasai Bulog 3,6 juta ton. Dia menilai, klaim ketersediaan stok tersebut tidak sejalan dengan kondisi riil yang dirasakan masyarakat Aceh.
Baca Juga
- Kemenko Pangan Ungkap Penyebab Anomali Beras Mahal saat Stok Melimpah
- Usai Beras, Kementan Kini Targetkan RI Swasembada Kedelai
- 1.000 Ton Beras Ilegal Ditemukan Masuk RI, Mentan Ungkap Modusnya
Menurutnya, terdapat perbedaan antara paparan Bulog dan keluhan masyarakat yang perlu mendapat penjelasan lebih transparan.
“Kenapa dari paparan Bapak ini kok tidak sama dengan apa yang hari ini dikeluhkan masyarakat di Aceh, yaitu mereka mendapatkan harga beras yang tidak murah,” tambahnya.
Bahkan, menurut Mufti, mahalnya harga beras juga dirasakan oleh pihak-pihak yang hendak menyalurkan bantuan ke Aceh, karena kesulitan mendapatkan beras dengan harga terjangkau di lokasi.
“Di Aceh ini banyak masyarakat yang merasa karena mereka masih punya kemampuan sehingga mereka tidak berharap bantuan, tapi mereka ingin untuk bagaimana bisa beli beras ini dengan harga yang terjangkau,” pungkasnya.



