Utilisasi pabrik PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) saat ini berada di level rendah. Dari kapasitas terpasang 75 ribu unit per tahun, pemanfaatannya disebut hanya tersisa sekitar 25 persen. Kondisi tersebut tidak lepas dari tekanan pasar kendaraan niaga nasional yang dalam beberapa waktu terakhir dibanjiri produk truk impor China dengan harga yang jauh lebih kompetitif.
Direktur PT HMMI Harianto mengungkapkan penurunan utilisasi bukan karena kemampuan produksi, melainkan perubahan struktur pasar. Masuknya truk impor utuh (CBU) dari China membuat persaingan harga menjadi sangat ketat, terutama di segmen menengah hingga berat yang selama ini jadi tulang punggung.
"Sesuai perizinan, kapasitas produksi kami 75 ribu unit setahun dan kemampuan produksi rata-rata dari awal sampai akhir itu 30 sampai 45 persen, tapi 2025 tahun paling suram buat kami sisa sekitar 25 persen," ungkap Harianto saat ditemui di Purwakarta, Rabu (21/1).
Tambahnya fasilitas produksinya di Indonesia itu dirancang untuk jangka panjang dengan standar kualitas dan durabilitas yang disesuaikan karakter penggunaan di Tanah Air. Namun ketika pasar dibanjiri produk impor dengan banderol lebih rendah, keputusan pembelian bergeser ke faktor harga meski spesifikasi jangka panjang dan purna jual belum tentu sebanding.
Perusahaan melihat situasi ini sebagai tantangan serius bagi keberlangsungan industri kendaraan niaga nasional. Menurut mereka, jika tren impor truk CBU terus berlanjut tanpa pengaturan yang seimbang, maka bukan hanya satu merek yang terdampak, melainkan seluruh ekosistem manufaktur, mulai dari tenaga kerja, pemasok komponen lokal, hingga investasi jangka panjang.
"Sebagai perbandingan kami membangun pabrik materialnya impor kena biaya, truk China masuk, biayanya nol lebih untung impor truk kan. Sementara kami impor baja kena 10 persen, ada yang 5 persen. Nah secara industri ini masalah, kami telah sampaikan ke Kemenperin, jadi memang berat dan itu sangat terasa di 2025," katanya.
Meski begitu, Hino, katanya menegaskan tetap berkomitmen mempertahankan basis produksinya di Indonesia. Strategi yang ditempuh antara lain dengan memperkuat diferensiasi produk, menekan total cost of ownership, serta mengandalkan layanan purna jual dan jaringan aftersales yang luas di berbagai sektor industri, mulai dari logistik, pertambangan, hingga transportasi publik.
Di sisi lain, Hino juga mendorong adanya kebijakan industri yang lebih berpihak pada penguatan manufaktur lokal. Bukan untuk menutup impor sepenuhnya, tetapi menciptakan playing field yang adil antara produk rakitan dalam negeri dan kendaraan impor utuh, sehingga investasi yang sudah ditanamkan selama puluhan tahun tetap memiliki kepastian.
"Jadi bisa bayangkan industrinya turun juga berdampak ke efisiensi. Semua pos kami hemat, tahun lalu kami sebutnya struggle, kalau bisa bertahan syukur, kami sampaikan ke karyawan kondisinya, Memang tidak ada PHK, walaupun negatif, konsepnya adalah kami lebih banyak mempersiapkan maintain mesin persiapan naik dan Alhamdulillah tahun ini ada program Koperasi Merah Putih," lanjutnya.
Mengacu data produksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), puncak produksi Hino dalam lima tahun terakhir terjadi pada 2022 dengan total 32.570 unit, seiring pemulihan ekonomi pascapandemi dan tingginya kebutuhan kendaraan niaga untuk logistik serat infrastruktur.
Setelah itu, tren penurunan terjadi selama tiga tahun berturut-turut, pada 2023 menjadi 27.545 unit atau turun 15,4 persen, berikutnya menjadi 23.823 unit atau turun 13,5 persen, serta puncaknya pada 2025 asosiasi mencatat data produksi Hino menjadi 18.450 unit atau turun 22,6 persen.
Secara total produksi Hino pada 2025 merosot sekitar 43 persen dibandingkan puncaknya pada 2022. Sementara terhadap kapasitas terpasang 75 ribu unit per tahun, maka realisasi 2025 hanya mencerminkan utilisasi 24-25 persen.





