Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, salah satu aspek yang menjadi faktor pelemahan rupiah adalah munculnya persepsi negatif pasar, pada proses pencalonan Deputi Gubernur BI yang saat ini tengah berlangsung.
Dimana diketahui bahwa terdapat tiga nama yang diusung untuk pencalonan Deputi Gubernur BI, yakni Dicky Kartikoyono, Solikin M. Juhro, dan Thomas Djiwandono yang merupakan Wakil Menteri Keuangan sekaligus keponakan Presiden Prabowo sendiri.
"Karena adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur," kata Perry dalam telekonferensi pers, Rabu, 21 Januari 2026.
- [tangkapan layar]
Selain itu, anjloknya rupiah diakui Perry juga disebabkan oleh kaburnya aliran modal asing, sebagai imbas dari meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
"Selain keluarnya aliran modal asing, ada juga kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara," ujar Perry.
Sementara dari sisi eksternal, Perry menjelaskan bahwa faktor yang turut membuat rupiah dan sejumlah mata uang lain turut melemah adalah kebijakan tarif yang kembali digaungkan oleh Amerika Serikat (AS).
Hal itu menurutnya juga masih ditambah dengan mengecilnya potensi penurunan suku bunga The Fed, sehingga memperkuat posisi dolar AS dan mengarahkan aliran modal keluar dari emerging market menuju negara-negara maju seperti Paman Sam.
Karenanya, lanjut Perry, BI menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dengan didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat sambil tetap menjaga inflasi agar tetap rendah dan terkendali.
"Kami di BI juga masih akan terus berupaya menjaga agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap kuat, didukung fundamental ekonomi yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang tetap dijaga rendah, dan prospek ekonomi yang membaik," ujarnya.




