EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan pernyataan paling kerasnya sejauh ini terhadap Republik Islam Iran, menyusul meningkatnya ancaman pembunuhan yang disebut-sebut berasal dari elite rezim Teheran.
Dalam wawancara dengan media pada 20 Januari, Trump secara terbuka menanggapi laporan mengenai ancaman langsung maupun terselubung yang ditujukan kepadanya. Dengan nada tegas dan tanpa ambiguitas, dia menyampaikan peringatan yang mengguncang komunitas internasional.
“Mereka seharusnya tidak melakukan hal seperti itu. Namun saya sudah memberikan peringatan: jika terjadi sesuatu pada diri saya, maka seluruh negara itu akan dihancurkan dengan ledakan,” ujar Trump.
Pernyataan ini segera menyebar luas dan dipandang sebagai sinyal bahwa hubungan Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut sumber yang mengetahui langsung konteks pernyataan tersebut, Trump menjawab pertanyaan wartawan terkait ancaman dari pejabat dan tokoh berpengaruh Iran yang diduga menyerukan pembunuhan terhadap dirinya. Di mata kalangan intelijen dan diplomatik, pernyataan Trump bukan sekadar retorika, melainkan peringatan pamungkas bahwa setiap upaya menyentuh Presiden AS akan berujung pada pembalasan militer berskala negara.
Pejabat internal pemerintahan AS menegaskan bahwa sikap ini lahir dari dua faktor utama:
- Memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah, dan
- Penindasan brutal Iran terhadap gelombang protes domestik yang terus meluas sejak akhir 2025.
Opsi Militer Dibahas Intensif di Gedung Putih dan Pentagon
Sejalan dengan pernyataan keras Trump, laporan terbaru The Wall Street Journal mengungkap bahwa sejak beberapa pekan terakhir, opsi militer terhadap Iran telah dibahas secara intensif dalam rapat tertutup di Gedung Putih dan Pentagon.
Dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi, Trump dilaporkan berulang kali menekankan bahwa “opsi keras tidak dikesampingkan”. Dia meminta para pembantunya menyiapkan skenario serangan yang benar-benar memiliki dampak menentukan, bukan sekadar serangan simbolik.
Opsi yang dibahas mencakup:
- Serangan presisi terhadap pusat kekuasaan rezim Iran,
- Penghancuran infrastruktur militer strategis,
- Hingga kemungkinan operasi berskala besar yang dapat membuka jalan menuju perubahan rezim.
Trump berulang kali menggunakan frasa “this is serious” dalam rapat-rapat tersebut, menandakan bahwa dia menolak pendekatan setengah-setengah. Menurut sumber internal, Presiden AS menginginkan setiap tindakan militer mampu mengubah perilaku Iran secara total, atau bahkan merombak struktur kekuasaannya.
Pengerahan Militer AS ke Timur Tengah Melaju dengan Kecepatan Tinggi
Seiring eskalasi retorika politik, pengerahan militer Amerika Serikat ke Timur Tengah berlangsung dengan kecepatan yang dinilai luar biasa oleh para analis pertahanan.
Fokus di Yordania: Pangkalan Udara Muwaffaq Salti
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania kini menjadi salah satu pusat konsentrasi utama pasukan AS. Berdasarkan analisis pelacakan penerbangan terbuka, sedikitnya 12 jet tempur F-15E Strike Eagle telah dipindahkan dari pangkalan RAF di Inggris ke lokasi tersebut.
Pemindahan ini didukung oleh beberapa pesawat tanker KC-135, memungkinkan operasi udara jarak jauh dan berkelanjutan. Selain itu, pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dilaporkan bolak-balik mengirim personel serta perlengkapan tambahan.
Pangkalan Muwaffaq Salti merupakan markas Wing Ekspedisi Udara ke-332 Angkatan Udara AS, unit yang sejak lama disiapkan untuk menghadapi ancaman udara dan rudal Iran.
Kelompok Tempur Kapal Induk Dipercepat
Yang paling mencolok, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan mempercepat pergerakannya menuju kawasan Timur Tengah. Setelah melintasi Selat Malaka, armada ini diperkirakan tiba di perairan Timur Tengah dalam waktu sekitar dua hari.
Kelompok tempur tersebut membawa:
- Pesawat tempur berbasis kapal induk,
- Kapal perusak berpeluru kendali,
- Kapal pendukung yang mampu melancarkan serangan udara dan laut berintensitas tinggi ke berbagai target di wilayah Iran.
Sebelumnya, USS Abraham Lincoln bertugas di kawasan Pasifik Barat, namun segera dialihkan menyusul eskalasi tajam di Timur Tengah.
Dukungan Logistik Skala Besar
Selain itu, sedikitnya 10 kapal tanker logistik militer AS dilaporkan telah meninggalkan pelabuhan Amerika Serikat. Sebagian menuju basis transit di Eropa, sementara lainnya langsung berlayar ke Timur Tengah.
Kapal-kapal ini berfungsi sebagai tulang punggung logistik bagi operasi jarak jauh—memperpanjang jangkauan tempur dan memungkinkan serangan udara berkelanjutan dalam skenario konflik berkepanjangan.
Iran Membalas dengan Ancaman, Trump Tegaskan “Target Sudah Terkunci”
Di sisi lain, Iran terus mengeluarkan pernyataan balasan keras. Teheran menyatakan bahwa setiap aksi militer AS akan menghadapi “konsekuensi menghancurkan”, sembari mengisyaratkan bahwa mereka telah menguasai informasi sensitif mengenai pangkalan militer AS di kawasan.
Namun Trump, baik melalui pernyataan publik maupun media sosial, tetap menunjukkan sikap tanpa kompromi. Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah “mengunci target dan siap menembak”, sembari menyatakan harapannya agar kepemimpinan baru di Iran dapat muncul untuk mencegah konflik berskala penuh.
Para pengamat menilai, kombinasi antara ancaman terbuka Trump dan pengerahan militer besar-besaran ini menandakan bahwa Washington tengah menyiapkan dua jalur sekaligus: menekan Iran secara maksimal melalui intimidasi strategis, sambil tetap membuka kemungkinan intervensi militer langsung jika situasi berkembang di luar kendali.




