FAJAR, MAKASSAR –Nama Yusuf Meilana sempat berembus pelan di bursa transfer paruh musim. Tidak gaduh, tak pula sensasional. Namun di kalangan pengamat Liga 1, bek kiri Persik Kediri itu dianggap sebagai kepingan yang berpotensi mengisi ruang kosong di sejumlah tim papan atas—termasuk PSM Makassar yang sejak awal musim mencari konsistensi di sisi kiri pertahanan. Spekulasi itu kini berakhir. Yusuf Meilana resmi berseragam Bali United, meski hanya dengan status pinjaman.
Pengumuman itu datang tanpa banyak basa-basi. Melalui akun media sosial resminya, Bali United memperkenalkan Yusuf sebagai tambahan kekuatan di lini belakang. “Datang untuk memperkuat lini pertahanan, mari berjuang bersama @yusufmfb_7 demi lambang Bali di dada,” tulis manajemen klub. Kalimat singkat, namun sarat makna: ekspektasi, tanggung jawab, dan tantangan baru.
Bagi Bali United, perekrutan Yusuf bukan sekadar menambah kedalaman skuad. Keputusan itu lahir dari evaluasi panjang sepanjang putaran pertama kompetisi. Chief Executive Officer Bali United, Yabes Tanuri, secara terbuka mengakui bahwa sektor pertahanan timnya belum sepenuhnya solid. “Setelah melihat perjalanan setengah musim kompetisi, kami melihat masih ada lini sektor yang perlu diperkuat,” kata Yabes, Selasa (20/1). Nama Yusuf Meilana kemudian muncul sebagai jawaban yang dinilai paling masuk akal—pemain berpengalaman, fleksibel, dan relatif minim adaptasi.
Yusuf bukan sosok asing di Liga 1. Sejak memperkuat Persik Kediri pada musim 2021/2022, pemain kelahiran Kediri itu dikenal sebagai bek kiri pekerja keras dengan disiplin bertahan yang kuat. Ia bukan tipikal pemain yang gemar mencuri sorotan, tetapi perannya kerap terasa ketika absen. Di musim pertamanya bersama Persik, Yusuf tampil dalam 21 pertandingan—angka yang menandai kepercayaan pelatih terhadapnya di tengah ketatnya persaingan.
Puncak kontribusinya terlihat pada musim lalu. Yusuf tampil dalam 29 pertandingan, mencatatkan satu gol dan dua assist. Statistik itu mungkin tidak mencolok bagi pemain sayap, tetapi cukup signifikan untuk seorang bek kiri. Lebih dari angka, konsistensi dan ketenangannya dalam membaca permainan membuat lini belakang Persik relatif stabil.
Situasi berubah ketika Ong Kim Swee datang menangani Persik Kediri. Perubahan filosofi dan kebutuhan taktik membuat Yusuf perlahan tersingkir dari pilihan utama. Kedatangan Yoga Adiatama pada musim ini semakin mempersempit ruangnya. Yoga, yang direkrut dari Persela Lamongan, langsung merebut posisi starter dan tampil dalam 13 pertandingan sejak awal musim. Yusuf harus rela menunggu, bergantian masuk dari bangku cadangan, atau hanya menjadi pengamat dari sisi lapangan.
Statistik mencatat realitas itu dengan dingin. Di putaran pertama musim ini, Yusuf hanya tampil delapan kali dan menjadi starter dalam lima pertandingan. Angka yang jauh dari ideal bagi pemain yang pernah menjadi andalan. Namun minimnya menit bermain tak serta-merta menggerus kualitas. Dalam keterbatasan waktu, Yusuf tetap menunjukkan efektivitas. Data I League mencatat ia membukukan 22 intersepsi, 16 tekel, dan lima sapuan—angka yang menunjukkan naluri bertahan dan kemampuan membaca pergerakan lawan masih terjaga.
Kemampuan itu pula yang menarik perhatian Bali United. Selain bek kiri, Yusuf dikenal serba guna. Ia bisa dimainkan sebagai sayap kiri, bahkan sesekali mengisi pos bek kanan. Fleksibilitas semacam ini menjadi aset penting bagi pelatih Bali United, Johnny Jansen, yang kerap menuntut pemainnya adaptif terhadap perubahan skema dan situasi pertandingan.
Di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Yusuf datang tanpa label bintang, tetapi juga tanpa beban masa lalu. Ia tiba sebagai pemain yang ingin kembali menemukan ritme, menit bermain, dan kepercayaan diri. Persaingan di Bali United tentu tak kalah ketat, namun berbeda dengan situasinya di Kediri, peluang itu kini kembali terbuka.
Bagi Yusuf, masa peminjaman ini lebih dari sekadar persinggahan. Ini adalah panggung pembuktian—bahwa ia belum habis, belum tergantikan, dan masih relevan di level tertinggi sepak bola Indonesia. Bagi Bali United, Yusuf adalah potongan puzzle yang diharapkan mampu menutup celah di lini belakang, sekaligus memberi variasi dalam transisi bertahan dan menyerang.
Apakah Yusuf Meilana akan langsung menjadi pilihan utama di putaran kedua Super League? Ataukah ia kembali harus berjuang dari lapis kedua? Jawabannya akan hadir seiring waktu, menit demi menit di lapangan hijau. Yang pasti, di Bali, Yusuf mendapat kesempatan baru—dan dalam sepak bola, kesempatan kedua sering kali menjadi yang paling menentukan.




