Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memperkenalkan tiga proyek strategis dalam debut internasionalnya di World Economic Forum (WEF) 2026 yang berlangsung di Davos, Swiss.
Pemaparan tiga proyek tersebut berlangsung dalam sesi bertajuk “Danantara: Powering Indonesia’s Future” di Indonesia Pavillion, Selasa (20/1/2026).
Managing Director Investment Danantara, Stefanus Ade Hadiwidjaja, merinci tiga proyek unggulan itu meliputi pembangunan fasilitas waste-to-energy (WTE) di 33 kota, pengembangan industri obat berbasis plasma darah, serta pembangunan Kompleks Haji berstandar internasional di Makkah.
"Danantara ingin membangun sesuatu yang tahan lama dan berdampak bagi masyarakat. Kami bergerak cepat, tetapi tidak terburu-buru. Kami ingin memastikan memiliki fondasi yang kuat,” ujarnya.
Terkait dengan WTE, Danantara sebelumnya mengungkapkan bahwa proses peletakan batu pertama proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) ditargetkan berjalan bertahap pada Maret hingga Juni 2026.
Berdasarkan laporan Danantara bertajuk Addressing Future Waste Challenges, proyek PSEL yang diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 109/2025 ini merupakan program nasional jangka panjang dengan masa kontrak 30 tahun.
Baca Juga
- Forum Davos Dibayangi Ketegangan Trump, Greenland, dan Eropa
- Forum Davos, Wakil PM China Buka Pintu Pasar Domestik Redam Tensi Global
- Daftar Lengkap Proyek Strategis Danantara dan Nilai Investasinya
Dalam laporan itu, Danantara menyatakan pelaksanaan program dibagi dalam empat tahapan utama. Saat ini, fokus tertuju pada empat wilayah awal yang dinilai paling siap yakni Bekasi, Bogor Raya, Bali, dan Yogyakarta.
Memasuki Januari 2026, agenda utama adalah penyerahan proposal atau proposal submission dari para peserta tender, yang kemudian dilanjutkan dengan proses evaluasi mendalam pada Januari hingga Februari 2026.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia diketahui telah memenangkan dua proyek strategis di Arab Saudi terkait penyediaan akomodasi jemaah haji. Salah satunya berupa pembelian hotel siap pakai, sementara proyek lainnya adalah lahan yang akan dikembangkan menjadi Kampung Haji Indonesia.
Selain memaparkan proyek, Danantara juga menyatakan komitmen tata kelola melalui efisiensi internal BUMN. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penghapusan tantiem dewan komisaris BUMN yang diproyeksikan menghemat anggaran sebesar Rp8 triliun hingga Rp8,3 triliun per tahun.
Managing Director Global Relations & Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menilai langkah tersebut bertujuan membangun kepercayaan pasar.
"Reformasi adalah tentang menukar kenyamanan jangka pendek dengan kepercayaan pasar global," pungkasnya dalam kesempatan yang sama.




