JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pengendara mengeluhkan praktik pengaturan lalu lintas liar oleh pak ogah di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.
Mereka menilai kehadiran pak ogah justru memperparah kemacetan karena menerapkan prioritas berdasarkan uang.
"Jujur, lebih banyak terganggunya. Soalnya gini, mereka kan bukan petugas resmi. Mereka enggak peduli macet apa lancar, maunya duluin yang ngasih duit," ujar pengguna jalan, Faizal (27) saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Menurut Faizal, pak ogah akan menahan kendaraan lain saat pengemudi memberi kode dengan tangan sebagai tanda akan memberi uang.
Baca juga: Pak Ogah di Daan Mogot Bikin Pengendara Nyaris Celaka, Polisi Diminta Bertindak
"Seringnya tuh yang lurus jadi ketahan lama biar yang muter atau belok pada duluan jalannya. Kadang kalau kita taunya ngasih kode pakai tangan, dikeluarin kayak mau kasih duit, nanti juga diduluin," ucap Faizal.
Akibatnya, kemacetan panjang sering terjadi di titik-titik padat seperti depan Satpas SIM Daan Mogot dan Halte Transjakarta Damai di Grogol. Padahal, setelah titik putar balik, kondisi jalan biasanya lancar.
"Macet terus di sana, padahal depannya lowong, bisa langsung ngebut," ujar Faizal.
Faizal juga menyebut pak ogah tidak hanya ada di U-turn, tetapi juga di persimpangan kecil yang mengarah ke Daan Mogot. Hal ini membuat pengendara di jalur utama sering harus mengalah.
"Dari jalanan dalam juga banyak, jadi yang mau belok diduluin, sampai nutupin jalan dah," tambah Faizal.
Baca juga: Warga Sebut Pak Ogah Bikin Macet Daan Mogot Makin Parah
Faizal mendesak polisi mengambil alih pengaturan lalu lintas di Daan Mogot agar arus berjalan sesuai aturan, bukan berdasarkan uang.
"Harusnya kan sama polisi lah, kan di sini deket dari kantor polisi juga, dari Polres, mending diatur polisi. Kalau polisi kan pakai aturan, bukan pakai siapa yang bayar. Biar adil lah jalannya," tutur Faizal.
Pantauan Kompas.com pada Rabu (21/1/2026), pak ogah menguasai 11 titik putar balik di Jalan Daan Mogot, mulai dari Kalideres hingga Grogol Petamburan.
Dari total 12 titik U-turn, hanya area dekat perlintasan kereta api Pesing yang tidak dijaga.
Di sejumlah titik seperti dekat Satpas SIM Daan Mogot dan Halte Transjakarta Damai, antrean kendaraan yang hendak berputar balik kerap mengular hingga dua lajur, sehingga kendaraan yang ingin lurus terhambat.
Padahal arus lalu lintas biasanya lancar setelah melewati area putar balik.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

