Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, pesawat ATR 42-500 mengalami penyimpangan jalur atau kebablasan saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, sehingga berujung mGunung Bulusaraung.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan pesawat seharusnya mendarat di runway 21. Namun, pesawat tidak mengikuti rute runway yang telah ditetapkan.
Advertisement
"Rute yang kuning tadi yang disampaikan Direktur AirNav bahwa STAR atau Standard Terminal Arrival Route yang untuk runway 21 itu harus dimulai dari Araja, titik Araja," ujar Soerjanto di Kompleks Parlemen Senayan, dikutip Rabu (21/1/2026).
Menurut Soerjanto, prosedur seharusnya untuk runway 21 adalah pesawat melewati tiga titik, yakni Araja, Openg, dan Kabip. Namun, pesawat ATR 42-500 terbang keluar dari jalur yang seharusnya.
"Pesawat harusnya tadi ke poin Araja, tapi dia terlewat. Diminta untuk menuju poin Openg, ternyata juga pesawatnya tidak menuju ke poin Openg. Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya," tuturnya.
Karena melewati atau keluar jalur seharusnya, lanjut Soerjanto, pesawat diarahkan menuju titik terakhir, namun pesawat tetap keluar jalur dan akhirnyan masuk ke wilayah Pegunungan Bulusaraung.
"Terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja, Pak. Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash (tabrak gunung )," pungkasnya.



