Identitas jenazah pria korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, akhirnya terungkap. Korban pertama yang ditemukan merupakan Deden Maulana.
Dari data manifest, Deden Maulana adalah penumpang pesawat ATR. Dia pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan pangkat Penata Muda tingkat 1, jabatannya Pengelola Barang Milik Negara.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sekitar pukul 22.05 WITA, nampak peti jenazah bertuliskan nama Dede Maulana dengan label post mortem PM.62.B.02 dikeluarkan dari ruangan post morten. Peti itu kemudian diserahkan ke keluarga Deden.
Peti jenazah itu, diterima oleh perempuan bernama Vera, yang disebut-sebut adalah istri Deden. Vera pun tak kuasa membendung air mata. Tangannya gemetar, saat berkas hasil pemeriksaan itu diserahkan oleh Kasubdit Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, AKBP Elvis J.
Setelah penyerahan itu, peti jenazah langsung dinaikkan ke mobil ambulans lalu dibawa ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Tim DVI Biddokes Polda Sulsel hingga pihak keluarga enggan berkomentar terkait hasil identifikasi dan penyerahan jenazah tersebut.
Tim DVI Sempat Kesulitan Identifikasi KorbanTim DVI sebelumnya melakukan jumpa pers pada Rabu (21/1) petang tadi. Di situ, tim DVI mengaku mengalami kesulitan mengindentifikasi pria korban pertama itu.
Tim DVI sebut, bahwa kondisi jenazah sudah bengkak meski masih utuh. "Kondisi (mayat), sudah bengkak," kata Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Muh Haris kepada wartawan.
Dengan kondisi tersebut, tim DVI memerlukan pemeriksaan intensif seperti pengambilan DNA. Proses ini memerlukan waktu. Beda dengan Florencia, perempuan korban kedua yang ditemukan.
"Mungkin itulah yang menjadi kendala pada saat identifikasi setiap jenazah. Mudah-mudahan untuk jenazah yang kedua, yang sudah kami terima (bisa teridentifikasi)," ucap dia.
Jenazah Deden ditemukan pada Minggu (18/1) siang, di jurang dengan kedalaman 200 meter dari puncak. Ia menjadi korban pertama yang jenazahnya ditemukan oleh tim SAR.
Pada hari itu juga, tim SAR gabungan telah berusaha mengevakuasi Deden. Tapi karena medan dan cuaca ekstrem, proses evakuasi tidak dapat dilakukan. Tim SAR baru berhasil mengevakuasi ke RS Bhayangkara Makassar setelah tiga hari lamanya.
Deden dievakuasi menggunakan helikopter ke Lanud Hasanuddin, pada Rabu (21/1) tadi pagi. Kemudian, dilanjutkan perjalanan ke RS Bhayangkara menggunakan ambulans.
Sosok Pendiamkumparan sempat mengunjungi rumah Deden pada Sabtu (17/1) malam di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat itu pesawat yang ditumpangi Deden dikabarkan hilang kontak.
Seorang tetangga Deden, Suratno, mengungkapkan Deden tinggal di rumah tersebut bersama seorang istri dan satu anaknya. Sosoknya juga dikenal pendiam.
“Orangnya pendiem sih, enggak banyak ini… jarang nongkrong di luar. Kalau dia pulang ya paling sekali-sekali nongkrong sama saya di depan rumah, ngerokok, masuk lagi, gitu doang,” katanya.
Suratno juga mengungkapkan, Deden sempat berpamitan kepadanya sebelum berangkat menjalankan tugas.
“Hari Jumat apa kemarin gitu. Saya lagi duduk di sini juga, dipamit sama saya. ‘Pak No, berangkat dulu ya.’ ‘Oh iya hati-hati,’ saya gitu,” tuturnya.



