Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya fenomena cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa itu dipicu oleh Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di barat daya Teluk Carpentaria, Australia.
"Sistem tersebut mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi, dilansir dari Antara, Rabu, 21 Januari 2026.
Satria mengatakan Bibit Siklon Tropis 97S memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 25 knot dengan tekanan udara minimum 998 hectopascal dan bergerak ke arah barat. Sistem bibit badai tropis tersebut berdampak tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di NTB.
Baca Juga :
Bibit Siklon Tropis Muncul Lagi, BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Indonesia Selatan"Gangguan atmosfer lain seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan gelombang Kelvin juga terpantau aktif di NTB," papar Satria.
Saat ini, terdapat potensi terbentuknya daerah tekanan rendah di perairan selatan NTB yang dapat memicu pertemuan dan perlambatan kecepatan angin. Keberadaan tekanan rendah membuat kelembapan udara cenderung tinggi di berbagai lapisan ketinggian, sekaligus meningkatkan labilitas atmosfer yang mendukung proses konvektif skala lokal.
"Kondisi itu berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang," ujar Satria.
Ilustrasi cuaca. Foto: Medcom.id.
Berdasarkan analisa BMKG, kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S juga menimbulkan dampak tidak langsung berupa peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB yang mempengaruhi tinggi gelombang laut. Pada 21 Januari 2025, BMKG menyampaikan kecepatan maksimum angin permukaan yang berhembus di wilayah NTB mencapai 55 kilometer per jam.
Angin kencang membuat perairan Samudera Hindia di selatan NTB masuk zona merah pelayaran. Gelombang laut di wilayah tersebut mencapai tinggi empat sampai enam meter.
"Kami mengimbau seluruh pihak terkait dan masyarakat untuk senantiasa memantau perkembangan cuaca, peringatan dini, serta potensi risiko bencana melalui kanal resmi BMKG," tandas Satria.




