Situasi keamanan dan ketertiban di Iran dilaporkan telah kembali stabil dan kondusif pasca-gelombang kerusuhan yang sempat melanda sejumlah kota besar. Aktivitas perekonomian warga, mulai dari pasar tradisional, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga layanan perbankan dan transportasi umum, kini telah beroperasi normal tanpa pembatasan berarti.
Jurnalis di Iran, Ismail Amin, melaporkan bahwa meski kondisi pulih, aparat keamanan masih disiagakan di sejumlah titik strategis sebagai langkah preventif. Akses internet di negara tersebut juga masih dibatasi, namun jaringan domestik sudah dapat digunakan untuk komunikasi internal, termasuk bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di sana.
"KBRI Teheran telah menjalin koordinasi yang intens dengan pihak berwenang di Iran untuk memastikan tidak ada korban, baik luka-luka maupun korban jiwa dari Warga Negara Indonesia akibat kerusuhan," lapor Ismail Amin dalam Primetime News Metro TV, Rabu 21 Januari 2026.
Peringatan Keras untuk Donald Trump
Di tengah pemulihan situasi domestik, ketegangan geopolitik justru meningkat menyusul ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemerintah Iran merespons keras pernyataan Trump yang dianggap menghina Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei.
"Dikatakan oleh Presiden Pezeshkian, setiap ancaman yang dikenakan terhadap Ayatullah Khamenei itu artinya akan memicu perang skala besar di kawasan Timur Tengah. Menteri Pertahanan Iran juga telah menyatakan kesiapan dan kesiagaan penuh untuk eskalasi perang kalau itu harus terjadi," tambah Ismail.
Intelijen Asing dan Penyelundupan Senjata
Terkait kerusuhan yang terjadi, otoritas Iran membedakan penanganan antara demonstran damai dan perusuh. Aksi protes yang awalnya dipicu oleh inflasi ekonomi dinilai wajar dan difasilitasi dialognya oleh pemerintah. Namun, aksi tersebut kemudian ditunggangi oleh kelompok yang diduga terafiliasi dengan intelijen asing, termasuk Zionis, yang membelokkan isu menjadi gerakan anti-pemerintah dan anarkisme.
Aparat keamanan Iran kini gencar melakukan operasi penindakan terhadap para perusuh bersenjata. Dalam operasi di Provinsi Sistan dan Baluchestan, terjadi baku tembak sengit antara aparat dan kelompok bersenjata. Pihak berwenang mengklaim telah menyita sekitar 60.000 pucuk senjata yang coba diselundupkan masuk ke Iran untuk memicu kekacauan lebih lanjut. Akibat kerusuhan ini, tercatat sekitar 100 orang yang terdiri dari warga sipil dan aparat keamanan menjadi korban jiwa di Teheran.



