Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan upah tenaga kerja yang terus berlanjut di tengah produktivitas yang relatif stagnan menjadi sinyal peringatan bagi daya saing industri padat karya nasional.
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan dalam catatannya pertumbuhan produktivtias tenaga kerja manufaktur tidak bergerak secepat kenaikan upah minimum maupun upah rata-rata industri.
"Tetapi tantangan berlimpah, biaya tenaga kerja dan produktivitas, produktivitas tenaga kerja relatif stagnan, upah meningkat jauh lebih tinggi daripada peningkatan produktivitas," kata Yose dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).
Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat tanpa diimbangi oleh efisiensi atau peningkatan output yang sepadan, sehingga margin usaha pelaku industri makin tergerus.
Tekanan tersebut kian terasa bagi industri padat karya yang struktur biayanya sangat bergantung pada tenaga kerja. Ketika upah meningkat signifikan setiap tahun, sementara produktivitas hanya naik terbatas, daya saing Indonesia dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam, Kamboja, dan India menjadi melemah.
"Negara-negara tersebut mampu menjaga keseimbangan antara biaya tenaga kerja dan produktivitas," tuturnya.
Baca Juga
- BNI Dorong UMKM Manfaatkan AI, Perkuat Daya Saing Digital hingga Ekspor
- Rasio Investasi Asing terhadap PDB 2025 Turun, RI Mulai Kehilangan Daya Saing?
- EAEU FTA Buka Peluang Ekspor, Daya Saing Manufaktur RI Jadi Kunci
Di sisi lain, peningkatan biaya tenaga kerja tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pembeli global. Oleh karena itu, pelaku usaha didorong untuk memperbaiki skema hubungan dengan buyer internasional, antara lain melalui kontrak jangka panjang, kepastian volume pesanan, atau harga yang lebih mencerminkan struktur biaya aktual.
CSIS juga menekankan pentingnya kepastian dan prediktabilitas regulasi ketenagakerjaan. Aturan yang konsisten dan dapat diprediksi dinilai menjadi faktor kunci bagi keputusan investasi, terutama di sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Ke depan, CSIS menilai peningkatan produktivitas harus menjadi agenda utama, baik melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja, adopsi teknologi, maupun perbaikan proses produksi.
"Tanpa langkah tersebut, kenaikan upah yang tidak diimbangi produktivitas dikhawatirkan akan terus menjadi alarm bagi daya saing industri padat karya nasional," pungkasnya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478865/original/037928200_1768955017-PHOTO-2026-01-20-18-28-26.jpg)

