JAKARTA, KOMPAS.TV - Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah Denmark yang memiliki pemerintahan sendiri, dinilai berpotensi memicu ketegangan baru, tidak hanya dengan rival global, tetapi juga dengan sekutu tradisionalnya di Eropa.
Pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho menilai langkah tersebut lahir dari kegagalan berbagai pendekatan kerja sama internasional dalam meredam kompetisi kekuatan besar.
Greenland, sebagai wilayah otonom Denmark, berada di titik sensitif relasi transatlantik.
Ketika AS mendorong manuver sepihak untuk mengamankan kepentingannya di kawasan Arktik, negara-negara Eropa berada pada posisi dilematis antara menjaga solidaritas aliansi dan mempertahankan kedaulatan serta kepentingan kawasan.
Baca Juga: Mengapa Trump Incar Greenland? Pakar Geopolitik: Jaga Kekuatan Militer dan Ekonomi AS
Wibawanto menjelaskan, dalam perkembangan teori hubungan internasional, neorealisme kemudian melahirkan pendekatan liberalisme.
Pendekatan ini menekankan pengelolaan balance of power (keseimbangan kekuatan) melalui kerja sama dan pertukaran kepentingan antarnegera.
“Ayo kita atur bagaimana balance of power itu bisa dikelola dalam kerja sama. Semangatnya adalah exchange energy (pertukaran energi) satu sama lain,” ujar Wibawanto dalam program Kompas Petang Kompas TV, Rabu (21/1/2026).
Namun, pendekatan tersebut dinilai belum mampu menciptakan stabilitas dalam konteks kompetisi kekuatan besar saat ini, khususnya antara AS, China, dan Rusia. Alih-alih mereda, rivalitas global justru semakin mengeras.
Ketika kerja sama bilateral dan multilateral tidak cukup, dunia kemudian mencoba pendekatan institusionalisme, yakni mengelola konflik melalui lembaga-lembaga internasional.
Salah satu contohnya adalah NATO, yang selama ini menjadi pilar keamanan kawasan Atlantik.
Baca Juga: Pesan Rahasia Macron ke Trump Terungkap, Sikap Eropa soal Greenland Ternyata Lebih Lunak
Menurut Wibawanto, NATO dan Rusia pernah menjalin kemitraan sebelum terjadinya invasi ke Ukraina. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan mekanisme institusional juga memiliki keterbatasan.
“NATO dan Rusia juga pernah partnership sebelum adanya invasi di Ukraina. Tetapi itu juga tidak jalan juga,” kata dia.
Kegagalan institusi dalam meredam konflik membuat negara-negara kembali mengandalkan kalkulasi kekuatan nasional masing-masing.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- Trump Greenland
- konflik AS Eropa
- ambisi Trump
- NATO
- Greenland
- Donald Trump





