Pakar Geopolitik: Ambisi Trump di Greenland Berpotensi Picu Gesekan AS-Eropa

kompas.tv
8 jam lalu
Cover Berita
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tersenyum saat bertemu para eksekutif perusahaan minyak di Ruang Timur Gedung Putih, Jumat (9/1/2026). (Sumber: AP Photo/Evan Vucci)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah Denmark yang memiliki pemerintahan sendiri, dinilai berpotensi memicu ketegangan baru, tidak hanya dengan rival global, tetapi juga dengan sekutu tradisionalnya di Eropa.

Pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho menilai langkah tersebut lahir dari kegagalan berbagai pendekatan kerja sama internasional dalam meredam kompetisi kekuatan besar.

Greenland, sebagai wilayah otonom Denmark, berada di titik sensitif relasi transatlantik. 

Ketika AS mendorong manuver sepihak untuk mengamankan kepentingannya di kawasan Arktik, negara-negara Eropa berada pada posisi dilematis antara menjaga solidaritas aliansi dan mempertahankan kedaulatan serta kepentingan kawasan.

Baca Juga: Mengapa Trump Incar Greenland? Pakar Geopolitik: Jaga Kekuatan Militer dan Ekonomi AS

Wibawanto menjelaskan, dalam perkembangan teori hubungan internasional, neorealisme kemudian melahirkan pendekatan liberalisme. 

Pendekatan ini menekankan pengelolaan balance of power (keseimbangan kekuatan) melalui kerja sama dan pertukaran kepentingan antarnegera.

“Ayo kita atur bagaimana balance of power itu bisa dikelola dalam kerja sama. Semangatnya adalah exchange energy (pertukaran energi) satu sama lain,” ujar Wibawanto dalam program Kompas Petang Kompas TV, Rabu (21/1/2026).

Namun, pendekatan tersebut dinilai belum mampu menciptakan stabilitas dalam konteks kompetisi kekuatan besar saat ini, khususnya antara AS, China, dan Rusia. Alih-alih mereda, rivalitas global justru semakin mengeras.

Ketika kerja sama bilateral dan multilateral tidak cukup, dunia kemudian mencoba pendekatan institusionalisme, yakni mengelola konflik melalui lembaga-lembaga internasional. 

Salah satu contohnya adalah NATO, yang selama ini menjadi pilar keamanan kawasan Atlantik.

Baca Juga: Pesan Rahasia Macron ke Trump Terungkap, Sikap Eropa soal Greenland Ternyata Lebih Lunak

Menurut Wibawanto, NATO dan Rusia pernah menjalin kemitraan sebelum terjadinya invasi ke Ukraina. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan mekanisme institusional juga memiliki keterbatasan.

“NATO dan Rusia juga pernah partnership sebelum adanya invasi di Ukraina. Tetapi itu juga tidak jalan juga,” kata dia.

Kegagalan institusi dalam meredam konflik membuat negara-negara kembali mengandalkan kalkulasi kekuatan nasional masing-masing.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Trump Greenland
  • konflik AS Eropa
  • ambisi Trump
  • NATO
  • Greenland
  • Donald Trump
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
82.244 Hektar Lahan di Lampung Dikuasai TNI AU Lagi, Mau Dipakai Apa?
• 18 jam lalukompas.com
thumb
16 Negara yang Gabung Dewan Perdamaian Gaza Board of Peace Buatan Trump, Ada Indonesia!
• 2 jam laludisway.id
thumb
Indonesia Setop Impor Solar pada 2026, Bahlil: Ada Surplus 1,4 Juta Kiloliter
• 16 menit lalutvrinews.com
thumb
Danantara Siap Genjot Investasi Lewat Rencana Patriot Bond Jilid II
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Liverpool Menang Telak, Persaingan Lolos Langsung ke 16 Besar Liga Champions Makin Sengit
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.