Grid.ID - Dedi Mulyadi umumkan kabar gembira untuk warga Jabar. Kini Jawa Barat raih peringkat 1 investasi tertinggi sampai ungguli Jakarta.
Nama Dedi Mulyadi memang selalu menjadi perbincangan publik. Gubernur Jabar itu selalu menarik perhatian dengan gaya kepemimpinannya.
Terbaru, Dedi Mulyadi umumkan kabar gembira. Kini Jawa Barat raih peringkat 1 investasi tertinggi sampai ungguli Jakarta.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan kabar menggembirakan bahwa Jawa Barat berhasil menempati posisi teratas secara nasional.
Ia mengungkapkan, Jawa Barat menjadi provinsi dengan realisasi investasi paling tinggi di Indonesia. Informasi tersebut disampaikan Dedi Mulyadi melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Selasa (20/1/2026).
Dalam video tersebut, Dedi Mulyadi terlebih dahulu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jawa Barat.
“Selamat pagi kepada seluruh warga Jawa Barat di mana pun berada, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat yang dipimpin oleh para ketua RT, RW, Kepala Dusun, Kepala Desa, Kuwu Kepala Kelurahan, Jaro, Camat, Bupati dan Wali Kota, Kepala Badan Penanaman Modal, saya ucapkan terima kasih, dan seluruh jajaran yang telah menjaga investasi di Jawa Barat,” papar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Berkat sinergi seluruh unsur pemerintahan tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Jawa Barat kini berada di peringkat pertama sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi sepanjang tahun 2025. Total nilai investasi yang masuk ke Jawa Barat mencapai Rp 296,8 triliun atau sekitar 15,4 persen dari total investasi nasional, melampaui capaian DKI Jakarta.
Capaian tersebut merupakan gabungan dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PMA merujuk pada investasi yang bersumber dari modal luar negeri, baik perorangan maupun badan usaha asing. Sementara itu, PMDN adalah investasi yang seluruh dananya berasal dari dalam negeri.
Untuk sektor PMA, Jawa Barat juga menempati peringkat pertama dengan nilai investasi mencapai USD 9,2 miliar atau sekitar 16,3 persen, mengungguli DKI Jakarta. Adapun DKI Jakarta berada di posisi ketiga dengan nilai PMA sebesar USD 6,0 miliar atau 10,6 persen.
Sementara pada sektor PMDN, Jawa Barat berada di posisi kedua dengan total investasi Rp 148,8 triliun atau 14,5 persen. DKI Jakarta menempati peringkat pertama dengan capaian PMDN sebesar Rp 176,3 triliun atau 17,0 persen.
Dedi Mulyadi berharap besarnya investasi yang masuk ke Jawa Barat dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, terutama bagi masyarakat setempat.
“Seluruh rangkaian ini mudah-mudahan melahirkan kesempatan kerja yang terbuka sehingga masyarakat Jawa Barat bisa bekerja, tidak menjadi pengangguran di daerahnya sendiri,” ujar Dedi Mulyadi.
Demikian, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa seluruh investasi tersebut harus dijaga bersama agar bisa meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.
“Semoga seluruh layanan yang disajikan menjadi kebahagiaan bagi kita semua, terima kasih ya,” tandasnya.
Daftar 5 Provinsi Dapat Investasi Tertinggi
Berikut ini daftar 5 provinsi mendapatkan investasi tertinggi di Indonesia secara umum, dikutip dari TribunJabar.id:
1. Jawa Barat Rp 296,8 triliun (15,4 persen)
2. DKI Jakarta Rp 270,9 triliun (14,0 persen)
3. Jawa Tmur Rp 145,1 triliun (7,5 persen)
4. Banten Rp 130,2 triliun (6,7 persen)
5. Sulawesi Tengah Rp 127,2 triliun (6,6 persen)
Catatan: total investasi tertinggi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Daftar 5 Provinsi Dapat Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Tertinggi
1. Jawa Barat USD 9,2 miliar (16,3 persen)
2. Sulawesi Tengah USD 7,5 miliar (13,2 persen)
3. DKI Jakarta USD 6,0 miliar (10,6 persen)
4. Maluku Utara USD 5,2 miliar (9,2 persen)
5. Banten 3,6 miliar (6,3 persen)
Daftar 5 Provinsi Dapat Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Tertinggi
1. DKI Jakarta Rp 175,3 triliun (17,0 persen)
2. Jawa Barat Rp 149, 8 triliun (14,5 persen)
3. Jawa Timur Rp 101,8 triliun (9,9 persen)
4. Banten Rp 73,2 triliun (7,1 persen)
5. Kalimantan Timur Rp 70,9 triliun (6,9 persen) (*)
Artikel Asli




