Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Swiss disambut antusias oleh diaspora serta pemuda Indonesia. Momen ini menjadi titik penting yang mencerminkan harapan generasi muda terhadap arah masa depan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Alvin Wihono, mahasiswa magister Material Science and Engineering di ETH Zurich sekaligus materials engineer di Hilti Group, yang mengemukakan pandangannya mengenai Prabowo.
“Menurut saya, Pak Prabowo adalah sosok yang memiliki mimpi besar. Ia memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang. Saya berharap beliau tetap konsisten, tegas dengan visinya, dan terus berupaya mewujudkan mimpi tersebut,” ujar Alvin.
Alvin menilai kehadiran Prabowo di forum internasional seperti World Economic Forum (WEF) di Davos sebagai langkah strategis bagi Indonesia di tengah fragmentasi global.
“Tentu kami sangat senang. Setelah lebih dari satu dekade, akhirnya Presiden Indonesia kembali hadir di Davos untuk mengikuti World Economic Forum. Menurut saya, ini merupakan langkah besar dan strategis bagi Indonesia,” lanjutnya.
Menurut Alvin, Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada penarikan investasi berbasis modal finansial, tetapi juga perlu memperkuat pembangunan sumber daya manusia dan mendorong transfer pengetahuan.
“Saya berharap Indonesia, khususnya melalui pertemuan di World Economic Forum kali ini, tidak hanya menarik investasi berupa financial capital, tetapi juga mampu membangun dan memperkuat human capital,” ungkapnya.
Terkait arah kebijakan nasional, Alvin juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan hilirisasi.
“Saya sangat setuju dengan kebijakan tersebut. Selama bertahun-tahun, sumber daya alam Indonesia hanya dikeruk tanpa diolah secara optimal. Menurut saya, hilirisasi merupakan langkah awal yang berani dan strategis yang diambil oleh Pak Prabowo,” tegasnya.
Ia menilai kebijakan hilirisasi tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga berpengaruh terhadap posisi Indonesia di kancah global.
“Kita tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga menentukan arah dan posisi Indonesia di dunia global. Kita menunjukkan bahwa Indonesia mampu dan berdaulat,” katanya.
Alvin pun optimistis bahwa dengan visi besar serta keberanian dalam mengambil langkah-langkah strategis, Presiden Prabowo mampu membawa Indonesia melangkah lebih jauh.
“Saya yakin Pak Prabowo memiliki kapasitas untuk mewujudkan hal tersebut,” tutupnya.
WNI lainnya, Pardy, yang telah menetap cukup lama di Swiss. Ia mengaku sudah 31 tahun tinggal di Basel dan merasa sangat senang dapat menyambut langsung Presiden Prabowo.
Pardy menceritakan bahwa ia sempat memperkenalkan diri dan menyampaikan ucapan selamat datang kepada Presiden Prabowo. Bagi dirinya, momen tersebut menjadi pengalaman berharga yang telah lama dinanti.
“Beberapa momen sempat ya. Saya memperkenalkan diri dan mengucapkan selamat datang. Saya senang Pak Prabowo bisa hadir ke Swiss,” ucapnya.
Ia menambahkan, harapan untuk bertemu langsung dengan Presiden Prabowo sudah dinantikan sejak tahun lalu. Karena itu, ketika kesempatan tersebut akhirnya terwujud, suasana penyambutan terasa semakin istimewa.
“Akhirnya ya, karena kita sudah lama, dari tahun lalu, menantikannya,” lanjut Pardy.
Menurutnya, antusiasme warga Indonesia di Basel terlihat jelas dari kehadiran rombongan diaspora yang sengaja datang untuk menyambut kunjungan Presiden Prabowo. Mereka hadir bersama-sama sebagai bentuk dukungan dan kebanggaan atas kunjungan tersebut.
“Cukup antusias, seperti bisa dilihat. Di sini kami satu rombongan, ada 12 orang yang datang sengaja untuk menyambut kehadiran Bapak Prabowo. Kami sangat senang sekali,” pungkasnya.
Harap Bawa Pemuda RI MenduniaDiaspora dan pemuda Indonesia di Swiss menaruh harapan besar terhadap kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di forum internasional World Economic Forum (WEF) di Davos.
Kehadiran tersebut dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas antara pemerintah dan generasi muda Indonesia di luar negeri.
Adli, mahasiswa magister Management, Technology, and Economics di ETH Zurich, menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan Presiden Prabowo yang dinilai memiliki pendekatan strategis dalam menghadapi tantangan global, sekaligus menjadi harapan baru bagi diaspora Indonesia.
“Menurut saya, Pak Presiden adalah sosok yang sangat strategis. Saya melihat bagaimana beliau mengelola prioritas, membangun hubungan dengan negara-negara mitra, serta merancang kebijakan ekonomi dengan strategi yang berlandaskan visi yang sangat jelas. Itu pandangan saya sebagai seorang mahasiswa,” tuturnya.
Ia menilai kehadiran Presiden Prabowo di forum WEF Davos sebagai langkah yang telah lama dinantikan oleh diaspora Indonesia, terutama setelah lebih dari satu dekade Indonesia tidak diwakili langsung oleh kepala negara dalam forum tersebut.
“Tentu kami sangat senang karena setelah lebih dari satu dekade, akhirnya Presiden kembali hadir di Davos untuk mengikuti World Economic Forum. Menurut saya, ini merupakan langkah besar bagi Indonesia,” ujar Adli.
Lebih lanjut, Adli menyampaikan harapan agar momentum kehadiran Presiden di WEF dapat diikuti dengan komunikasi yang lebih intens dan berkelanjutan antara pemerintah dengan diaspora Indonesia, serta komunitas internasional.
“Menurut saya, komunikasi seperti ini harus terus dijalin, baik dengan diaspora maupun dengan negara-negara lain,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa diaspora Indonesia di luar negeri memiliki komitmen dan kontribusi nyata bagi bangsa, serta berharap negara dapat terus merangkul mereka. Dengan begitu, pemuda-pemuda Indonesia bisa ikut mendunia.
“Kami mencintai Indonesia, dan kecintaan itu seharusnya bersifat resiprokal. Indonesia juga perlu mencintai serta merangkul warganya yang berada di luar negeri,” pungkasnya.
Aku Dibilang GantengKedatangan Presiden RI Prabowo Subianto di Swiss sempat disambut hangat oleh anak-anak diaspora Indonesia. Suasana penyambutan berlangsung akrab dan penuh keceriaan, terutama saat dua anak diaspora, Narendra dan Tanaya, mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Presiden.
Narendra, bocah berusia 12 tahun, mengaku sangat senang bisa bertatap muka dan berjabat tangan langsung dengan Presiden Prabowo. Ia mengatakan bahwa dirinya bersekolah di wilayah Bern.
“Nama aku Narendra, umur 12 tahun,” ujar Narendra.
“Sekolah di Manuel, di Bern. Ya, happy banget sih,” tambahnya dengan antusias.
Momen paling berkesan bagi Narendra adalah ketika ia berjabat tangan dengan Presiden Prabowo dan mendapat sapaan yang membuatnya semakin semringah.
“Beliau bilang aku ganteng,” ucap Narendra sambil tersenyum.
Tak hanya Narendra, Tanaya juga merasakan kebahagiaan serupa saat menyambut Presiden Prabowo. Ia mengaku senang dan antusias bisa berada dalam momen tersebut.
Penyambutan hangat dari anak-anak diaspora ini mencerminkan kedekatan serta rasa bangga masyarakat Indonesia di luar negeri terhadap pemimpin negaranya, Presiden Prabowo Subianto.
Kehangatan tersebut turut menghadirkan suasana humanis di tengah agenda kunjungan kenegaraan Presiden di Swiss.




