Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan usai berulang kali salah menyebut Greenland sebagai "Islandia" dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss. Kekeliruan tersebut memicu perbincangan luas, termasuk terkait kondisi kesehatan dan ketajaman mental sang presiden.
Dalam pidato pada Rabu (21/2/2026) waktu setempat, Trump beberapa kali menggunakan istilah Islandia saat membahas Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang sejak lama ingin ia akuisisi. Isu ini sensitif karena berkaitan dengan kepentingan geopolitik, keamanan NATO, serta hubungan Amerika Serikat dengan Eropa.
"Saya membantu NATO, dan sampai beberapa hari terakhir, ketika saya memberitahu mereka tentang Islandia, mereka menyukai saya," kata Trump dalam pidatonya.
Ia melanjutkan, "Mereka tidak ada di sana untuk kita di Islandia, itu yang bisa saya pastikan. Maksud saya, pasar saham kita mengalami penurunan pertama kemarin karena Islandia. Jadi Islandia sudah merugikan kita banyak uang."
Pernyataan itu dinilai jelas merujuk pada Greenland, bukan Islandia, negara pulau di Atlantik Utara yang dikenal dengan lanskap vulkaniknya. Kesalahan penyebutan tersebut langsung memicu kritik dan spekulasi di media serta kalangan politik.
Gedung Putih membantah adanya kebingungan dari pihak presiden, yang saat ini berusia 79 tahun. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menepis unggahan jurnalis Libbey Dean di platform X yang menilai Trump mencampuradukkan Greenland dan Islandia.
"Tidak, Libby. Pernyataan tertulisnya menyebut Greenland sebagai 'sepotong es' (Iceland) karena memang itulah adanya. Hanya kamu yang mencampuradukkan semuanya di sini," tulis Leavitt, seperti dikutip AFP, Kamis (22/1/2026).
Trump sendiri dikenal kerap menyimpang dari naskah tertulis yang ditampilkan di teleprompter saat berpidato, termasuk dalam forum internasional besar seperti Davos.
Momen salah sebut itu kemudian dimanfaatkan oleh Gubernur California Gavin Newsom, tokoh Demokrat yang disebut-sebut sebagai calon presiden potensial pada 2028. "Semua ini tidak normal. Ada normalisasi, penyimpangan kesadaran," kata Newsom.
Isu kesehatan dan ketajaman mental memang menjadi topik sensitif bagi Trump. Pada kampanye Pilpres AS 2024, ia kerap menyerang Presiden Joe Biden dengan klaim bahwa lawannya mengalami penurunan kognitif.
Namun dalam beberapa hari terakhir, sejumlah anggota parlemen Demokrat justru menyerukan penggunaan Amandemen ke-25 Konstitusi AS, yang memungkinkan presiden dicopot jika dinilai tidak lagi memiliki kapasitas fisik atau intelektual untuk menjalankan tugas.
Seruan tersebut juga dikaitkan dengan pesan Trump kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store yang dipublikasikan awal pekan ini. Dalam pesan itu, Trump menyatakan kekecewaannya karena tidak dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu.
"Mengingat negara Anda memutuskan untuk tidak memberi saya Hadiah Nobel Perdamaian karena telah menghentikan delapan perang plus, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya memikirkan perdamaian," tulis Trump.
Padahal, Hadiah Nobel Perdamaian diberikan dalam upacara tahunan di Oslo oleh komite independen, bukan oleh pemerintah Norwegia.
(tfa/tfa)



