Tak ada seorang pun yang benar-benar siap menghadapi kehilangan. Namun, itulah kenyataan pahit yang setiap hari menyergap warga Gaza, Palestina ketika serangan menghantam bangunan-bangunan yang semula berdiri kokoh, lalu menyulapnya menjadi reruntuhan
Di antara puing-puing itu berdiri Ahmed Abu Saada, laki-laki berusia 20 tahunan. Pandangannya kosong, menatap sisa tembok yang runtuh dan menghancurkan tenda tempat ia berlindung.
Bangunan itu sudah lebih dulu rapuh akibat serangan Israel, sebelum akhirnya roboh diterjang badai. Bagi Ahmed, yang hancur bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga cinta.
Ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan istrinya yang baru dua hari lalu ia nikahi. Pernikahan yang semula menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi duka yang membungkus hari-harinya. Masa depan yang hendak dirajut bersama mendadak menggelap, seperti awan tebal yang menggantung di atas kepalanya.
Perjalanan cinta Ahmed Abu Saada dan Sang IstriDikutip dari Anadolu Ajansi, Ahmed merupakan seorang pria dengan gangguan pendengaran. Dalam keterbatasan itu, ia sempat menemukan secercah harapan saat bertemu perempuan bernama Walaa Jahha. Di tengah ketidakpastian hidup di pengungsian, keduanya berkomitmen untuk saling menguatkan dan menjalani hari dengan ketangguhan.
Pasangan ini kemudian menikah pada 27 Desember dalam sebuah upacara sederhana di tengah pengungsian. Tanpa pesta, tanpa kemewahan. Namun bagi Ahmed, pernikahan itu menjadi lentera yang memberinya alasan untuk bertahan hidup.
Namun, api yang baru saja ia nyalakan padam sebelum sempat menghangatkan masa depan. Baru dua hari setelah pernikahan, impian indah yang sempat ia bayangkan lenyap bersama puing-puing bangunan. Ia kehilangan istri dan harapan untuk hidup.
Sejak saat itu, malam-malam Ahmed dipenuhi kesunyian. Ia menghabiskan hari-harinya dengan menyendiri, memutar ulang foto-foto pernikahan di layar gawainya. Gambar-gambar itu menjadi satu-satunya cara baginya untuk kembali ke momen ketika kebahagiaan sempat terasa nyata, meski kini hanya tinggal kenangan.
“Ahmed berusaha mengatasi keterbatasan pendengarannya dan hidup seperti pemuda lainnya. Namun, ia justru harus menghadapi tragedi yang jauh lebih besar,” ujar ayahnya, Saad al-Din Abu Saada.
Ayahnya mengatakan kalau Ahmed mengalami guncangan psikologis yang mendalam sehingga ia tidak dapat berinteraksi seperti sedia kala. Ahmed pun memilih menghabiskan waktu di tempat tidur yang menyimpan jejak darah istrinya.




