Cerita Hangat Pemuda Indonesia-Singapura: Menenun Persahabatan di Luar Meja Diplomasi

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lupakan sejenak jabat tangan formal di meja diplomasi atau barisan angka kerja sama ekonomi yang kaku. Di sudut-sudut jalan Selegie hingga blok perumahan publik Toa Payoh, Singapura, narasi persahabatan antara Indonesia dan Singapura sedang ditulis ulang dengan cara yang jauh lebih "bernyawa".

Melalui program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE) yang digelar pada pertengahan Januari 2026, sebanyak 30 anak muda dari kedua negara tidak sekadar bertukar kartu nama. Mereka juga membedah realitas sosial yang selama ini sering kali hanya menjadi perdebatan bising di jagat maya, yaitu bagaimana caranya agar tetap bisa berjalan beriringan di tengah perbedaan yang tajam?

Baca Juga
  • Ini Alasan Gen Z Selalu Merasa Lelah Secara Mental, Bukan karena Malas
  • Gen Z Suka Baca tapi Akses Bukunya Jadi Masalah | Special Interview

Bagi anak muda zaman sekarang, istilah "kohesi sosial" mungkin terdengar seperti bahasa buku teks yang berat. Namun, dalam program garapan Singapore International Foundation (SIF) ini, konsep tersebut diterjemahkan ke dalam pengalaman nyata yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Bayangkan, para peserta tidak hanya duduk diam di dalam ruang konferensi, tetapi turun langsung ke jalanan Selegie-Prinsep untuk mengeksplorasi inklusi komunitas melalui tur jalan kaki.

Mereka juga menyusuri Toa Payoh untuk melihat bagaimana penataan perumahan publik di Singapura mampu membentuk interaksi sosial yang organik. Pengalaman imersif ini menjadi cermin bagi para peserta untuk melihat tantangan di negara masing-masing dengan kacamata yang lebih segar.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Wakil Presiden MENDAKI Club dari Singapura, Amalina Binte Abdul Nasir, merasakan betul dampak dari interaksi lintas batas ini. Baginya, mendengarkan cerita dari rekan-rekan Indonesia adalah sebuah momen refleksi yang mendalam.

“Mendengarkan cerita dari teman-teman Indonesia juga mengingatkan saya bahwa meskipun konteks kita berbeda, tantangan terkait inklusi dan saling memahami bersifat universal, ini adalah perjalanan yang dimulai dari empati dan berlanjut dengan aksi,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (21/1/2026) malam.

Program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE) yang digelar pada pertengahan Januari 2026. - (Dok. Singapore International Foundation (SIF))

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
12 Desa di Kudus Masih Terendam Banjir, Ketinggian Air Capai 50 CM | KOMPAS SIANG
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Anggota Ormas di Bandung Barat Tewas Diduga Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mengapa ”Constitutional Complaint” Mendesak bagi Indonesia?
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Belum Surut! Ketinggian Banjir di Karawang Capai 2,5 Meter, Begini Kondisi Terkini | KOMPAS PETANG
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Geledah Rumah dan Kantor Bupati Sudewo, Ini Barang Bukti yang Dibawa
• 8 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.