Puluhan perempuan, tua dan muda, turun tangan di Posko Utama operasi SAR pesawat ATR 42-500. “Wilayah operasi” mereka adalah dapur umum yang bertugas menyiapkan makanan bagi ribuan orang setiap hari. Demi kemanusiaan, dan korban bisa ditemukan, mereka bertahan di balik dapur.
Pada ruangan berukuran sekitar 4x4 meter, sejumlah perempuan dari berbagai usia duduk melantai. Di hadapan mereka, ada kompor, panci, talenan, dan peralatan masak lainnya. Mereka lalu memotong daging ayam. Cabai merah dihaluskan. Telur juga dikupas dari cangkangnya.
Sejatinya, mereka tidak sedang di tempat memasak yang semestinya. Mereka ada di dapur umum posko utama operasi SAR gabungan di Desa Tompobulu, Balocci, Pangkep, Sulawesi Selatan.
Ruangan ini sebenarnya adalah gudang desa yang disulap menjadi dapur dadakan. Tak heran bila lemari penuh dokumen ada di sekitar dapur dadakan itu.
Salah satu yang ada di sana adalah Fatimah (60). Nenek satu cucu itu duduk bersila di depan berbagai bahan masakan. Ia seolah “dipagari” panci, kompor, dan baskom berisi potongan ayam. Hampir tidak ada ruang gerak baginya untuk meluruskan badan. Bau masakan ayam menguar di dalam ruangan sempit tersebut.
“Hampir tidak berhenti memasak. Tadi mulai subuh, jam 05.00 Wita. Karena kita harus bungkus 700 makanan,” kata Fatimah, Rabu (21/1/2026) jelang sore.
Padahal, ia menuturkan, baru berhenti memasak pukul 04.00 Wita. Hal itu seiring persiapan untuk makan pagi terhadap ribuan petugas dan relawan yang terlibat dalam operasi SAR gabungan. Ia pun tidak sempat pulang ke rumah. Hanya ke rumah tetangga berbaring sebentar, shalat, lalu kembali ke posko.
Menurut Fatimah, ia terbiasa memasak dalam skala besar. Baik untuk kawinan atau hajatan lainnya. Namun, pesta itu hanya berlangsung sehari. Kali ini, ia telah memasak selama hampir lima hari. Tanpa berhenti.
“Kita bantu yang bisa saja. Karena bisa masak, kita di dapur,” katanya disambut anggukan rekannya.
Syamsiah (63), perempuan lainnya, juga telah ikut memasak sejak hari pertama posko pencarian pesawat ATR 42-500 ada di desanya. Ia merasa perlu untuk membantu para relawan yang hadir untuk mencari dan mengevakuasi korban musibah pesawaat naas ini.
Selama empat hari terakhir, ia menceritakan, hampir tidak pernah lama di rumahnya sendiri. Ia hanya pulang mengganti pakaian, mandi, lalu kembali ke posko. Bersama rekannya, mereka baru pulang ke rumah pada dini hari, atau pagi hari.
“Karena yang datang semakin banyak dan kita tidak boleh berhenti memasak. Makanan harus siap terus jadi ini yang bisa kita bikin,” tambahnya.
Fitlinda (36), ketua PKK Desa Tompobulu menyampaikan, 30 orang ibu-ibu terlibat dalam dapur umum di posko utama pencarian ini. Mereka datang setiap hari membantu memasak, menyiapkan makanan, membersihkan, dan beragam pekerjaan dapur lainnya.
Para perempuan ini, ujar Fitlinda, terlibat atas dasar kemanusiaan. Mereka terpanggil membantu seiring musibah yang terjadi di sekitar kampung mereka.
Ribuan orang datang dari berbagai penjuru dalam operasi SAR pesawat yang ditumpangi total 10 orang tersebut. Jumlah porsi terus bertambah, dari 400 di hari pertama, menjadi 1.200 di hari kelima.
Setiap waktu, proses memasak haru terus berlangsung. Lauk yang telah disiapkan, nasi yang telah dimasak, terus dilanjutkan dari pagi hingga malam hari. Menjelang dini hari, mereka kembali memasak untuk persiapan sarapan, dan membungkus makanan.
“Kami sudah tidak tahu berapa kilogram nasi yang dimasak, lauk yang diolah. Kami hanya memasak yang ada hampir tidak berhenti. Ini semua demi kemanusiaan. Kami juga terharu banyaknya relawan yang datang untuk membantu di desa kami,” tuturnya.
Desa Tompobulu menjadi posko pencarian dan evakuasi setelah pesawat ATR 42-500 ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.
Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut melakukan penerbangan dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dipiloti Kapten Andy Dahananto.
Hingga Kamis (22/1/2026), dua korban telah berhasil dievakusai dan diidentifikasi. Mereka adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono, dan seorang penumpang bernama Deden Maulana.
Kotak hitam pesawat juga telah ditemukan dan diserahkan ke KNKT. sementara itu, proses pencarian terus berlangsung. Sebanyak enam korban lainnya juga telah ditemukan dan dalam upaya evakuasi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pangkep Akbar Yunus menuturkan, dapur umum posko utama untuk operasi SAR pesawat ATR 42-500 memang ditempatkan di kantor Desa Tompobulu. Seiring dengan adanya dapur umum, kehadiran para perempuan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan makanan para tim SAR gabungan.
“Bisa dibayangkan setiap hari memasak tiga kali sehari untuk ribuan orang. Dari yang awalnya 400 porsi, naik terus hingga hari ini 1.200 porsi,” katanya. Logistik, ia menyampaikan, sejauh ini mencukupi. Selain dari daerah, juga ada sumbangan dari berbagai pihak, baik instansi, BUMN, maupun pribadi.
Kepala Desa Tompobulu Abdul Kadir Hakim (44) menyampaikan, seiring dengan operasi SAR yang terus berlangsung, warga desa berinisiatif untuk membantu. Ada yang membantu mencari, naik ke gunung, membuka rumah untuk ditempat para relawan, dan lain sebagainya.
“Puluhan perempuan di desa membantu di dapur umum. Ini bentuk solidaritas kami sebagai warga desa. Kami berharap bisa membantu dan upaya pencarian membuahkan hasil,” tambahnya.
Setiap pagi, ia menerangkan, para perempuan ini telah bersiap memasak dengan porsi ratusan, bahkan ribuan. Sarapan disiapkan, lalu dilanjutkan makan siang, hingga makan malam.
Tidak hanya perempuan, para warga lainnya juga telah ikut membantu sejak awal. Ada yang ikut mencari ke puncak, atau membuka pintu rumah sebagai tempat menginap para relawan. Semua warga mengupayakan untuk turut terlibat dalam operasi kemanusiaan ini.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/1867601/original/050505900_1517833019-Pintu-Air-Manggarai.jpg)



