Nak, Apa yang Sebaiknya Ayah Wariskan untuk Kamu?

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang anak laki-laki memiliki seorang sahabat karib. Sejak kecil, setiap hari mereka selalu bersama—tak terpisahkan. Sahabat itu adalah seekor anak babi.

Ayah si anak adalah seorang tukang jagal yang mencari nafkah dengan menyembelih babi. Anak babi itu, ketika dewasa, suatu hari akan menjadi hewan yang harus disembelih oleh ayahnya.

Anak laki-laki itu selalu takut sahabat kecilnya tumbuh besar. Dia takut kehilangan teman terbaiknya.

Namun ada satu hal yang tidak dia ketahui—ayahnya juga sedang menghadapi kematian. Ayahnya mengidap kanker, dan dokter menyatakan bahwa dia hanya memiliki waktu hidup sekitar enam bulan.

Ayah tetap bekerja dengan tenang setiap hari. Dia berpikir: “Waktuku tinggal sedikit. Aku harus bekerja lebih giat agar bisa meninggalkan cukup uang untuk anakku.”

Lalu dia merenung :  “Selain uang… Nak, apa lagi yang seharusnya kutinggalkan untukmu?”

Suatu hari, ayah berkata kepada anaknya : “Sebentar lagi aku akan menyembelih babi kecilmu itu. Saat waktunya tiba, aku ingin kamu menjadi asistanku dan membantuku di samping.”

Anak itu bukan hanya sedih—dia juga marah.

 Dalam hatinya dia berkata :  “Papa tega sekali! Papa kejam!”

Ayah tetap bekerja setiap hari, menyembelih babi seperti biasa.

Anak itu sangat menyayangi anak babinya. Dia menikmati setiap hari kebersamaan mereka sepenuh hati. Karena kecewa pada ayahnya, dia memaksa dirinya untuk menjadi lebih kuat menghadapi semua ini. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan ayahnya.

Tibalah hari ketika anak babi itu seharusnya disembelih…

Namun ayah tidak menyembelih anak babi itu. Karena pada hari itu—ayah meninggal dunia.

Anak laki-laki itu menangis dalam diam. Saat itulah dia benar-benar memahami niat ayahnya.

Dia tidak meraung-raung dalam tangis, karena sejak lama dia telah bersiap menghadapi kehilangan. Kini dia tahu—ayahnya ingin dia selalu siap menghadapi kehilangan dalam hidup.

Setiap orangtua mencintai anaknya. Cara mencintai yang paling sering terpikir adalah: melindungi anak, memberi kebahagiaan, dan memastikan anak mendapatkan sebanyak mungkin hal baik.

Namun hidup bukan hanya tentang mendapatkan, bukan?  Kita juga harus belajar menghadapi kehilangan.

Kehilangan besar—seperti anak itu yang kehilangan orangtua. Kehilangan kecil—kehilangan mainan kesayangan, atau sahabat yang pindah rumah atau sekolah.

Bukankah semua itu adalah hal-hal yang anak-anak hadapi setiap hari? Bagaimana mungkin mereka tidak diajari menghadapinya?

Takut anak diculik? Perlindungan terbaik bukan mengawasinya 24 jam, melainkan mengajarinya cara melindungi diri saat menghadapi bahaya.

Takut anak sakit? Jangan mengurungnya di ruang steril, tetapi ajarkan cara menjaga kesehatan, dan apa yang harus dilakukan bila sakit.

Takut anak jatuh dan terluka? Justru ajarkan cara mencegah jatuh, dan bila jatuh, bagaimana bangkit dan menanganinya sendiri.

Semakin kita mencintai anak, semakin kita perlu bertanya: “Jika suatu hari aku tidak lagi berada di sisinya, apa yang seharusnya kutinggalkan untuknya?”

Mengajarkan anak menghadapi kehilangan, menerima hidup yang tidak selalu sempurna, dan mampu menghibur dirinya sendiri—itulah warisan yang benar-benar penting.

Renungan Redaksi

Di masyarakat modern, banyak keluarga hanya memiliki satu anak. Anak itu disayangi luar biasa—apa pun diupayakan agar ia tumbuh tanpa beban, tanpa kekhawatiran, dan selalu mendapatkan yang terbaik. Itu adalah wujud cinta orang tua, dan tentu tidak salah.

Namun kisah ini memberi kita bahan perenungan yang mendalam: Ketika orangtua memberikan begitu banyak hal kepada anak, apakah mereka juga memberikan hal terpenting dalam hidup—ketangguhan menghadapi kegagalan, dan kemampuan untuk bangkit saat terjatuh?

Seseorang yang hidup tanpa kesulitan, selalu mendapatkan apa yang diinginkan, dan tumbuh dalam kelancaran, cenderung memiliki daya tahan mental yang lebih lemah dan sulit menghadapi kegagalan.

Kesulitan dan tempaan di masa muda akan menjadi fondasi berharga ketika kelak menghadapi badai kehidupan, dunia kerja, dan dunia usaha.(jhn/yn)
Semakin banyak ditempa, semakin besar pula kemungkinan seseorang meraih pencapaian yang tinggi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga OTR Jakarta Motor Listrik Honda per Januari 2026
• 42 menit lalumedcom.id
thumb
Pakar Geopolitik: Ambisi Trump di Greenland Berpotensi Picu Gesekan AS-Eropa
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
PSM Tanpa Amunisi Asing Baru, Persijap Andalkan Bomber Alumni La Liga Spanyol
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Barcelona Masih di Zona Play-off, Hansi Flick: Betapa Sulitnya Menang di Liga Champions
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kasus Bupati Sudewo, Ini Penampakan Tersangka JION Terima Duit Rp 2,6 Miliar dalam Karung
• 4 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.