BI Perbesar Insentif Bank Turunkan Suku Bunga Kredit Baru

celebesmedia.id
5 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Insentif likuiditas yang digelontorkan Bank Indonesia (BI) ke perbankan mencapai Rp397,9 triliun. Tujuannya mempercepat transmisi penurunan suku bunga kredit baru perbankan sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan BI.

Implementasi penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berlaku pada 16 Desember 2025, diarahkan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan, melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia. 

Hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) mencapai Rp397,9 triliun, yang disalurkan kepada kelompok bank BUMN  Rp182,9 triliun, BUSN Rp174,7 triliun, BPD Rp33,1 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,2 triliun. 

Secara sektoral, insentif KLM disalurkan kepada sektor-sektor prioritas yang mencakup sektor pertanian, industri, dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi rreatif, sektor konstruksi, real estate, dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan.

"Pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh Bank Indonesia dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Pemerintah di perbankan perlu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan lebih cepat," demikian pernyataan BI dari hasil Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Januari lalu sebagaimana disampaikan Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekurif Departemen Komunikasi BI.

Seiring dengan penurunan BI-Rate 125 basis poin (bps) selama tahun 2025 dan ekspansi likuiditas moneter Bank Indonesia, suku bunga INDONIA menurun 234 bps sejak awal tahun 2025 menjadi sebesar 3,69% pada 20 Januari 2026. 

Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan menurun masing-masing sebesar 254 bps, 254 bps, dan 258 bps sejak awal tahun 2025 menjadi sebesar 4,62%; 4,66%; dan 4,69% pada 15 Januari 2026. 

Sementara itu, imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun dan 10 tahun masing-masing tercatat sebesar 5,06% dan 6,31% pada 20 Januari 2026. 

Transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan, menurut penilaian BI, terus berlanjut pada suku bunga dana maupun suku bunga kredit. 

Suku bunga deposito 1 bulan turun 56 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,25% pada Desember 2025, meskipun upaya lanjutan perlu terus dilakukan untuk penurunan pemberian special rate kepada deposan besar. 

Dengan penurunan suku bunga dana tersebut, suku bunga kredit perbankan mulai menurun, yaitu 39 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi  8,81% pada Desember 2025. 

Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurut data BI, kredit perbankan pada 2025 tumbuh 9,69% (yoy), berada dalam kisaran prakiraan BI 8-11% secara tahunan.

Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit investasi paling tinggi sebesar 21,06%,  kredit modal kerja 4,52%, dan kredit konsumsi 6,58% pada 2025.

Capaian tersebut sejalan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga. 

Sementara dari sisi permintaan, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia. 

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025. 

Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut. 

BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8-12%. Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut.

Menurut assesmen BI, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada November 2025 tercatat tinggi sebesar 26,05%, tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,21% (bruto) dan 0,86% (neto) pada November 2025. 

Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim SAR Temukan Black Box Pesawat ATR 42-500 pada Hari Kelima Pencarian
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Bertemu Raja Charles III, Sepakati Kerja Sama Konservasi Gajah Peusangan
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Punya Bobby di RI tapi saat di Inggris Disambut Larry
• 12 jam laludetik.com
thumb
UU Pemilu dan Pilkada Idealnya Direvisi Serempak, Mengapa?
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Anggota DPR RI Minta Patroli Laut Diperketat usai Terungkap Penyelundupan WNA asal Tiongkok
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.