Senjakala Lapak Permak Jin dan Sol Sepatu: Antara Kenangan Mahasiswa dan Harapan Baru Pasar Terban

suara.com
3 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Lapak-lapak jasa reparasi sepatu dan pakaian di Jalan Dr. Sardjito, Yogyakarta, telah dibongkar untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi pejalan kaki.
  • Relokasi para penyedia jasa tersebut dipindahkan ke lokasi baru di Pasar Terban, meskipun tidak semua pedagang memilih untuk pindah ke sana.
  • Para pedagang di lokasi baru Pasar Terban menghadapi kecemasan mengenai visibilitas pelanggan dan kesesuaian desain kios untuk usaha mereka.

Suara.com - Hiruk-pikuk Jalan Dr. Sardjito, Terban, Kota Yogyakarta kini terasa berbeda. Deretan lapak sederhana yang selama puluhan tahun menjadi "bengkel" andalan bagi sepatu jebol hingga celana jin mahasiswa UGM, kini tak lagi tampak.

Lapak-lapak legendaris itu sudah kosong tak menyisakan bangunan yang tinggal menunggu waktu untuk dibongkar.

Para penyedia jasa yang ada di sana sudah dipindah ke Pasar Terban. Tidak semua, beberapa pedagang memilih lokasi lain untuk membuka lapaknya kembali.

Relokasi para penyedia jasa ke Pasar Terban bukan hanya soal perpindahan fisik. Melainkan tentang memori kolektif yang kini harus menempati ruang baru.

Bagi para pelanggan setia, pembongkaran dan relokasi para penyedia jasa ini bukan sekadar penataan kota. Melainkan hilangnya kepingan memori masa perjuangan kuliah yang lekat dengan kesederhanaan.

Kenangan Sepatu Wisuda

Lapak relokasi penyedia jasa di Pasar Terban, Kamis (22/1/2026). (Suara.com/Hiskia)

Bagi Febrianto, alumnus Filsafat UGM, pembongkaran lapak-lapak tersebut memantik kembali ingatan masa perjuangannya saat wisuda pada 2016 lalu.

Febri sapaan akrabnya mengenang momen krusial ketika sepatu pantofel satu-satunya yang ia miliki mendadak jebol usai acara di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Padahal ia masih harus melanjutkan prosesi di fakultas.

Tanpa pikir panjang, ia meminjam motor teman menuju lapak-lapak di Sardjito itu yang memang dikenal sebagai satu-satunya rujukan mahasiswa kala itu.

Baca Juga: Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi

"Sepatu pantofel satu-satunya, jebol, ya udah sempetin dulu buat benerin dulu ke situ karena emang deket kampus," kata Febri, pada Kamis (22/1/2026).

Keberadaan lapak di sana memang menjadi penyelamat para mahasiswa. Mengingat sulitnya mencari jasa serupa di area indekos yang didominasi usaha binatu.

Febri ingat betul bahwa bagi mahasiswa pada zamannya, area tersebut adalah tujuan utama untuk segala urusan perbaikan sandang.

"Iya, emang itu kalau bayangan anak-anak mahasiswa dulu ya kalau mau jahit celana, benerin sepatu ya di situ itu. Pasti ke situ gitu," tandasnya.

Antara Ketertiban dan Kenyamanan

Meski menyimpan banyak kenangan, keberadaan lapak di trotoar tak dipungkiri menimbulkan persoalan tata kota. Mengingat lapak-lapak itu berdiri di atas trotoar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
AS-Greenland Mulai Damai, IHSG-Rupiah Berpotensi Cerah Hari Ini
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menkeu AS Tuduh Jerome Powell Politisasi The Fed
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Ditanya soal Rencana Punya Momongan, Arbani Yasiz: Itu Urusan Aku sama Istriku
• 7 menit lalukumparan.com
thumb
Menyoal Pembedaan Harga Buku Luar Pulau Jawa
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Sukses Bikin Chemistry Sempurna di ‘Can This Love Be Translated?’, Kim Seon-ho Buka Hati Bareng Go Youn-jung
• 19 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.