Malaysia mempertahankan suku bunga acuannya setelah perekonomian negara tersebut terbukti tangguh menghadapi guncangan tarif. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu bahkan melampaui proyeksi resmi, sementara inflasi tetap terkendali.
Bank Negara Malaysia (BNM) mempertahankan overnight policy rate (OPR) di level 2,75 persen pada keputusan kebijakan moneter pertamanya tahun ini, Kamis (22/1). Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi seluruh 22 ekonom yang disurvei Bloomberg. Dalam lima tahun terakhir, bank sentral hanya sekali memangkas suku bunga dan menyatakan sikap kebijakan saat ini tepat dan mendukung perekonomian.
“Momentum pertumbuhan diperkirakan berlanjut pada 2026, didukung oleh permintaan domestik yang tetap kuat,” ujar BNM dikutip dari Bloomberg, Kamis (22/1).
Investor global terus mengalirkan modal ke Malaysia, tertarik oleh stabilitas ekonomi dan fundamental yang solid. Negara Asia Tenggara ini mampu bertahan dari tarif sebesar 19 persen yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun penuh melampaui target pemerintah, ditopang oleh permintaan domestik yang kuat.
Menurut Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, keputusan BMN mencerminkan rasa optimisme. Dia memperkirakan suku bunga acuan akan tetap tidak berubah sepanjang tahun ini.
“Tidak ada urgensi bagi BNM untuk menurunkan OPR karena prospek pertumbuhan ekonomi masih cukup baik,” ujarnya.
Ringgit, yang menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia dalam 12 bulan terakhir, bergerak stabil setelah pengumuman keputusan suku bunga tersebut.
“Meski dampak tarif berpotensi menekan pertumbuhan global, prospek ekonomi Malaysia tetap tangguh, didukung oleh permintaan domestik yang berkelanjutan, inflasi yang semakin moderat, investasi teknologi yang kuat, serta kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif,” kata BNM.
Meski begitu, risiko penurunan masih ada, terutama dari kemungkinan kenaikan tarif lebih lanjut, eskalasi ketegangan geopolitik, dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Inflasi juga tetap rendah setelah pemerintah membatalkan rencana untuk menghentikan subsidi bahan bakar bagi kelompok masyarakat terkaya.
“Untuk 2026, inflasi umum diperkirakan tetap moderat seiring berlanjutnya penurunan tekanan biaya global. Inflasi inti pada 2026 diperkirakan stabil dan mendekati rata-rata jangka panjangnya, mencerminkan ekspansi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan serta tidak adanya tekanan permintaan yang berlebihan," kata BNM.
Keputusan untuk menahan suku bunga memberi ruang bagi BNM untuk bertindak lebih tegas jika kondisi memburuk tahun ini. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat ke kisaran 4-4,5 persen pada 2026, dari 4,9 persen pada 2025, di tengah meningkatnya volatilitas eksternal. Berkurangnya dampak front-loading serta potensi pemberlakuan tarif baru dapat membebani kinerja ekspor.
Indeks Harga Konsumen (IHK) rata-rata mencapai 1,4 persen pada 2025, level terendah dalam lima tahun terakhir. Pemerintah memperkirakan tekanan harga akan berada di kisaran 1,3-2 persen pada 2026.



