JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang daging sapi di Jakarta melakukan aksi mogok berjualan selama tiga hari, mulai Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026). Aksi ini merupakan bentuk protes atas tingginya harga sapi hidup dan karkas yang semakin memberatkan pedagang di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Terkait aksi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) memastikan bahwa saat ini tidak terjadi kelangkaan daging sapi di Jakarta.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, terdapat kenaikan harga daging sapi di tingkat eceran sebesar 0,17 persen atau sekitar Rp 240 per kilogram, sehingga harga rata-rata menjadi Rp 138.227 per kilogram.
“Harga tersebut masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 140.000 per kilogram,” kata Hasudungan saat dikonfirmasi, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Potret Sesaknya Penumpang KRL di Pondok Ranji Saat Jalur Terganggu
Untuk menekan harga sapi hidup dan karkas di Rumah Potong Hewan (RPH), Pemprov DKI Jakarta telah mengambil sejumlah langkah.
Salah satunya dengan tidak mengurangi jam operasional RPH serta tidak menaikkan biaya pemeriksaan kesehatan hewan di RPH milik Pemprov DKI.
Selain itu, Pemprov DKI melalui BUMD Dharma Jaya juga mendukung penyediaan 500 ekor sapi dengan harga Rp 54.000 per kilogram berat hidup. Dari jumlah tersebut, sebanyak 350 ekor sapi telah terserap oleh pasar.
Baca juga: Tembok Pasar Cipulir Jebol, Warga Khawatir Air Kali Meluap
Daging sapi disalurkan melalui Kegiatan Pangan Bersubsidi kepada sekitar satu juta masyarakat sasaran dengan harga tebus Rp35.000 per kilogram.
Sementara itu, melalui Gerakan Pasar Murah yang digelar BUMD, daging sapi dijual dengan harga Rp 128.000 per kilogram untuk paha depan, Rp 139.000 per kilogram untuk paha belakang, Rp 109.000 per kilogram untuk daging sop, serta Rp 125.000 per kilogram untuk potongan lainnya.
Sebelumnya, Dewan Pengurus Daerah (DPD) APDI DKI Jakarta memastikan aksi mogok dagang akan diikuti seluruh pedagang daging sapi dan bandar sapi potong di pasar tradisional serta RPH se-Jabodetabek.
Ketua DPD APDI DKI Jakarta, Wahyu Purnama, menyatakan aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan pedagang terhadap kondisi perdagangan daging sapi yang dinilai semakin tidak kondusif.
“Seluruh anggota APDI, bandar sapi potong, dan pedagang daging akan melakukan aksi mogom satang sebagai salah satu bentuk protes dan keprihatinan,” ujar Wahyu dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Wahyu mengungkapkan, aksi ini dipicu oleh tidak terealisasinya hasil rapat antara APDI dan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 5 Januari 2026. Dalam rapat tersebut, pemerintah disebut menjanjikan kestabilan harga sapi timbang hidup selama dua pekan.
Baca juga: SMAN 5 Depok Minta Buaya Lisa Dievakuasi, Ukurannya Membesar 5 Kali Lipat
Namun, hingga saat ini harga sapi timbang hidup dari feedloter masih dinilai terlalu tinggi.
Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga karkas di RPH, sementara daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
“Jaminan kestabilan harga sapi timbang hidup selama dua pekan dari pemerintah ternyata tidak ter realisasi. Harga sapi dari feedloter tetap tinggi, harga karkas ikut naik, sementara daya beli masyarakat sedang lemah,” kata Wahyu.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang




