FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan akan mengusut secara menyeluruh penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang menabrak Gunung Bulusaraung, Sabtu (17/1/2026) lalu.
Proses investigasi dilakukan setelah KNKT menerima black box pesawat dari Basarnas, yang terdiri atas flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR).
Diketahui, dalam insiden tragis tersebut, sebanyak 10 orang dilaporkan menjadi korban. Rinciannya, tujuh orang kru dan tiga penumpang.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, saat penyerahan black box di Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Kamis (22/1/2026), terlebih dahulu menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh keluarga korban.
Ia menegaskan, investigasi baru dapat dilakukan secara komprehensif setelah komponen penting pesawat tersebut berada di tangan KNKT.
“Kami KNKT bertugas sesuai dengan tupoksinya adalah melakukan investigasi keselamatan transportasi, dalam hal ini kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang terjadi di gunung Bulusaraung,” kata Soerjanto kepada awak media.
Penyerahan black box tersebut turut disaksikan sejumlah pejabat, di antaranya Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Selain itu, turut hadir juga Wakil Menteri Perhubungan Komjen Pol. (Purn) Suntana, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, serta Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro.
Soerjanto menjelaskan, dengan ditemukannya black box, seluruh misteri penyebab kecelakaan pesawat tersebut diharapkan dapat terungkap.
Ia menyebut, black box terdiri atas dua perangkat utama. Pertama adalah CVR yang berfungsi merekam suara di dalam pesawat dan memiliki empat saluran.
“Channel pertama adalah komunikasi antara pesawat dengan menara pengawas atau ATC, channel kedua adalah komunikasi antara pilot, channel ketiga adalah komunikasi dari kokpit ke kabin, dan channel keempat adalah suara yang ada di dalam kokpit,” terangnya.
“Jadi segala macam suara yang ada di dalam kokpit juga akan terekam. Dan apa pun pembicaraan antara pilot juga akan terekam. Nah itu juga menjadi satu bahan untuk investigasi,” lanjutnya.
Selain CVR, perangkat lainnya adalah FDR yang merekam sekitar 88 parameter penerbangan. Mulai dari ketinggian, kecepatan, hingga berbagai data teknis lain yang berkaitan dengan kondisi pesawat selama terbang.
Kata Soerjanto, kedua perangkat tersebut disebut black box karena isi datanya tidak bisa diketahui sebelum dilakukan pembukaan dan analisis.
Warna oranye pada perangkat itu juga dipilih agar mudah dikenali saat terjadi kecelakaan.
“Jadi kenapa ada ide black box ini? Kita sebagai manusia ingin belajar dari kejadian. Jadi ada lesson learned yang tujuannya adalah agar kecelakaan yang sejenis atau serupa di kemudian hari tidak terjadi kembali,” sebutnya.
“Maka kita ingin mengetahui lesson learned dari kejadian ini apa yang menjadi pembelajaran bagi kita untuk perbaikan agar keselamatan khususnya transportasi udara ini akan lebih aman ke depannya. Karena kita mengetahui bahwa kejadian seperti ini dapat terulang,” sambung Soerjanto.
Ia menambahkan, hasil investigasi KNKT nantinya akan dituangkan dalam investigation report yang memuat sejumlah rekomendasi.
Bahkan, jika dianggap mendesak, rekomendasi keselamatan bisa dikeluarkan lebih awal sebelum laporan akhir rampung.
“Kalau memang dipandang perlu, KNKT akan menerbitkan rekomendasi segera. Jadi sekali lagi bahwa dengan ditemukannya black box ini penyebab apa yang terjadi kecelakaan ini bisa kita ungkap dengan lebih tepat,” jelasnya.
Dengan demikian, kata Soerjanto, proses penyelidikan tidak dilakukan berdasarkan perkiraan, melainkan sepenuhnya bertumpu pada data yang akurat dan objektif.
Di akhir keterangannya, Soerjanto juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim SAR gabungan yang telah bekerja keras dalam operasi pencarian korban maupun black box di medan yang ekstrem.
“Tadinya saya memperkirakan bahwa dengan kondisi yang seperti itu kami tidak memiliki kemampuan untuk menemukannya,” tandasnya.
Sekali lagi kondisi dimana kedua black box ini ditemukan sangat ekstrim bagi kami. Alhamdulillah sudah ditemukan sebelum operasi SAR berakhir, sekali lagi terima kasih kepada tim SAR yang telah membantu kami menemukan kedua black box ini,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)
