Tertua di Dunia, Cap Tangan Manusia Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Kolaborasi penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University (Australia) mengungkap penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Temuan ini menegaskan Indonesia sebagai pusat sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia.

Peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana memaparkan, penelitian ini melanjutkan rangkaian studi sebelumnya yang terus mendorong mundur kronologi seni rupa manusia sejak tahun 2014. Temuan terakhir dirilis pada Juli 2014 saat peneliti menemukan seni cadas figuratif berbentuk tiga figur menyerupai manusia sedang berinteraksi dengan seekor babi hutan yang berusia setidaknya 51.200 tahun di gua kapur, Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Baca JugaLukisan Cadas dari Zaman Es yang Terancam Tambang Nikel

Adhi memaparkan, temuan cap tangan di gua batu gamping di Pulau Muna ini lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros–Pangkep. Seni cadas ini juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

"Jadi, pengambilan sampel ini pada tahun 2019 dan hari ini kita rilis umur pertanggalan gambar cap tangan di Leang Metanduno, menjadi yang tertua di dunia sekarang. Sebenarnya mungkin tidak hanya ada tiga cap tangan ini ya, tetapi ada beberapa lagi soalnya kebanyakan sudah tertutup sama koraloid," kata Adhi di Kantor BRIN, Jakarta, Senin (22/1/2026).

Adhi menjelaskan, untuk mengungkap usia seni cadas ini, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Hasil analisis menunjukkan batas usia minimum cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna sebesar 67,8 ribu tahun. Penemuan ini lalu dirilis dalam jurnal ilmiah internasional Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.

Semoga bisa naik ke tingkat nasional hingga menjadi warisan budaya dunia UNESCO.

Temuan lukisan cadas ini, lanjut Adhi, didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia. Salah satu yang paling besar yang bisa terlihat adalah gambar ayam, kuda atau sapi besar, dan gambar-gambar perahu, aktivitas perburuan dan kegiatan domestik.

Baca JugaLukisan Goa Menyingkap Jejak Peradaban Manusia

Adanya gambar-gambar terkait kebaharian itu sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu. Ini bukti bahwa Wallacea bukan hanya jalur menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal.

"Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia," ucap Adhi.

Maxime Aubert, arkeolog dari Griffith University menambahkan, yang paling menonjol dari seni cadas tertua ini bukan sekadar cap tangan biasa, melainkan cap tangan dengan jari runcing. Ini merupakan bentuk unik yang hanya ditemukan di Sulawesi dan belum pernah dijumpai di belahan dunia lain.

Seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang ditafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan. Namun, makna simbolik dari bentuk jari ini masih bersifat spekulatif.

"Kami belum pernah melihat stensil tangan seperti itu di mana pun di dunia. Ini juga menunjukkan pemikiran yang lebih maju, orang-orang sebenarnya memodifikasi stensil tangan seperti itu," kata Aubert.

Baca JugaKarst Maros-Pangkep Diakui UNESCO Global Park, 156 Tahun Lalu Alfred Rusell Wallace Menjelajah lokasi ini

Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan. Untuk itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Selain melakukan kolaborasi dengan Grifith Univeristy (Australia), penelitian ini juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca JugaTemuan Arkeologi di Bawah Jalur MRT Dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Muna Hadi Wahyudi mengatakan, temuan ini sangat membanggakan masyarakat Suku Muna sekaligus memperkuat komitmen mereka untuk menjaganya. Leang Metanduno dan kawasan Liangkabori pun sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Sultra.

"Ini sudah ditetapkan cagar budaya tingkat provinsi, semoga bisa naik ke tingkat nasional hingga menjadi warisan budaya dunia UNESCO, itu harapan kami ke depan," kata Hadi.

Hadi berharap para peneliti semakin banyak datang ke Kabupaten Muda untuk mengembangkan dan memberdayakan kebudayaan mereka menjadi satu narasi sejarah yang bagus dan bermanfaat bagi masyarakat zaman sekarang. Dengan narasi kebudayaan yang kuat, upaya pemajuan kebudayaan akan lebih berdampak.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Ungkap Uang Ratusan Juta Rupiah Dalam Karung saat OTT Pati
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kronologi Penumpang Meninggal Usai Loncat dari Peron Stasiun Gondangdia
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemerintah Suriah Resmi Ambil Alih Kamp al-Hawl dari SDF
• 7 jam laluidntimes.com
thumb
Yusril Bicara soal Rancangan PP Polisi di Jabatan Sipil
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Penyebab Utama Banjir Jakarta Hari Ini yang Merendam 12 RT dalam 2 Jam
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.