Lukisan Cadas Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Sulawesi Tenggara

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah mengumumkan penemuan lukisan cadas tertua di dunia yang berada di Leang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan yang terdapat di dinding gua tersebut berusia 67.800 tahun, menjadikannya temuan seni cadas tertua yang pernah dipublikasikan hingga saat ini.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan hasil riset tersebut merupakan kolaborasi antara BRIN, Griffith University Australia, serta Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Penelitian ini secara resmi dipublikasikan pada Rabu (21/1) dalam jurnal ilmiah Nature.

“Dengan publikasi ini, ini menjadi lukisan purba tertua di dunia, yaitu 67.800 tahun,” ujar Fadli Zon dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat pada Kamis (22/1).

Sebelumnya, lukisan gua yang sangat tua di Indonesia diketahui berada di Leang Karampuang, Maros, Sulawesi Selatan, dengan usia 51.200 tahun. Temuan terbaru ini, menurut Fadli, memperpanjang jejak ekspresi budaya manusia purba di Nusantara hingga puluhan ribu tahun lebih tua.

Penanda Manusia Modern

Menurut Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana, lukisan cadas berusia 67.800 tahun tersebut dibuat pada era Homo Sapiens, atau manusia modern awal. Ia menjelaskan usia tersebut sejalan dengan fase awal kedatangan manusia modern ke Nusantara.

“Jadi umur segitu kan baru kedatangan manusia modern awal Homo Sapiens ke Nusantara kan. Tadi aku bilang 70 ribu tahun kan di Sumatera. Nah setelah itu belum ada lagi kan bukti manusia modern awal,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

“Salah satu bukti bahwa migran Homo Sapiens dari Paparan Sunda ke Paparan Sahul,” tambah Adhie.

Apa Istimewanya?

Fadli Zon menyebut, lukisan di Leang Metanduno berupa cap tangan yang dibuat dengan teknik menyemprotkan pigmen oker merah. Tapi, yang membuatnya istimewa adalah adanya modifikasi pada jari-jari tangan yang diruncingkan, menyerupai cakar hewan.

“Bukan hanya cetakan tangan, tetapi ada kreasi, jari-jarinya diruncingkan,” ujar dia.

Adhie menambahkan bahwa motif jari runcing ini ditemukan di berbagai situs di Sulawesi, mulai dari Maros-Pangkep hingga Muna, dan menjadi penanda budaya gambar cadas manusia modern awal di kawasan tersebut. Sementara cap tangan dengan jari normal bersifat universal dan ditemukan di berbagai belahan dunia.

“Bedanya gambar di sana (Eropa) lebih kebanyakan Fauna. Cap tangan ada, tapi cap tangan kan universal di dunia dari Afrika sampai ke Asia dan Amerika Latin. Yang khasnya jari runcing, itu di Sulawesi doang,” paparnya.

Profesor Maxime Aubert dari Griffith University menyebut temuan ini sangat penting dalam konteks sejarah manusia. Ia menegaskan lukisan cadas di Sulawesi tidak hanya jauh lebih tua dibandingkan lukisan gua di Eropa, tetapi juga menunjukkan tingkat kompleksitas berpikir manusia modern.

“Ini adalah bukti tertua kapasitas manusia untuk berpikir secara abstrak. Lukisan ini sekitar dua kali lebih tua dibandingkan lukisan cadas tertua di Eropa yang berumur sekitar 40.000 tahun,” kata dia.

Sebagai perbandingan, lukisan gua Lascaux di Prancis berusia sekitar 17.000 tahun, sementara lukisan cadas tertua di Eropa umumnya berumur 40.000 tahun.

Dari sisi metodologi, Adhie menjelaskan bahwa penanggalan usia lukisan dilakukan menggunakan metode uranium series dengan laser ablasi sistem tertutup (close system), dengan beberapa sub-sampel di atas lapisan pigmen gambar yang menentukan umur minimum. Metode ini memperkuat keandalan hasil penanggalan dan menjadi salah satu alasan penelitian tersebut diterima oleh jurnal Nature.

Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Fadli menyatakan temuan ini akan menjadi bagian penting dalam penulisan sejarah awal peradaban Nusantara. Pemerintah juga berencana meningkatkan status lukisan ini dari Cagar Budaya tingkat provinsi menjadi Cagar Budaya Nasional guna memperkuat perlindungan situs.

Ia menambahkan pemanfaatan situs sebagai wisata sejarah akan dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan rekomendasi para ahli agar kelestarian lukisan purba tersebut tetap terjaga.

“Ini aset budaya yang harus kita lakukan perlindungan, dan juga pengembangan dan pemanfaatannya. Jangan sampai ini rusak termasuk oleh perubahan iklim,” tandas dia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Heboh Penemuan Kotak Berisi Kain Putih Mirip Pocong di Kulon Progo
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Yusril Ungkap Laporan Komisi Reformasi Polri Disampaikan ke Prabowo Akhir Januari
• 18 jam laluokezone.com
thumb
[FULL] Viral Mandi Lumpur, Ini Cara Kades Narso Protes Jalan Rusak ke Pemkab Sragen
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Trinland (TRIN) Pastikan Rahayu Saraswati Kuasai 5 Persen Saham Lewat Dua Perusahaan 
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Dolar Nyaris Rp17.000, Ini Untung Rugi Bagi Pengusaha Sepatu
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.