Di Pasar Nostalgia, Surabaya, masa lalu tak pernah benar-benar usang. Barang-barang antik di pasar itu hanya menunggu ditemukan tuannya. Semakin langka barangnya, nilai ekonominya makin tinggi.
Pasar Nostalgia di Jalan Bratang Binangun merupakan sebuah pasar yang menjual barang-barang antik atau kuno. Di tengah hiruk-pikuk kota, pasar ini jauh dari keramaian yang bising.
Saat naik memasuki pasar itu, suasana tampak sunyi. Di pintu masuk terpampang papan tulisan "barang antik ada di belakang".
Awal masuk, kanan-kiri kios tertutup rapat. Lalu, masuk berjalan melalui lorong tengah hingga ke ujung belakang barulah ketemu beberapa kios terbuka.
Beragam benda lawas seperti mesin tik puluhan tahun, koper, jam, hingga hiasan rumah tempo dulu tersusun rapi di lapak-lapak sederhana.
Barang-barang antik ini juga bisa menjadi sumber rezeki tersendiri. Seperti halnya Iswanto (50 tahun), salah satu penyewa lapak di Pasar Nostalgia. Ia yang awalnya mengoleksi barang antik untuk nostalgia, kini bisa menghasilkan uang.
"Saya dulu kan penggemar sepeda ontel. Terus ada barang-barang gini kan menimbulkan nostalgia gitu. Terus saya beli double, jual. Awalnya begitu," kata Iswanto saat ditemui di lokasi, Kamis (22/1).
"Di loakan-loakan itu kan nyari spare part ontel sama kalau ada, ada barang-barang yang jadul-jadul saya beli terus kumpulin. Kalau dulu masih belum ada online itu nyarinya pasar, pasar loak," lanjutnya.
Iswanto menyampaikan, mulanya ia tertarik mengoleksi dan menjual barang-barang seperti jam, radio hingga kerajinan kayu. Namun, lama-lama banyak permintaan dan koleksi barang-barang lainnya hingga ia memiliki 2 lapak di Pasar Nostalgia.
"(Sekarang) semuanya. Mainan ada, terus industrial, barang-barang yang buat lampu-lampu itu," ucapnya.
Koleksi barang antiknya itu ia jual mulai dari harga Rp 10 ribu hingga puluhan juta.
"Kalau yang mahal ya sampai Rp 15 juta, gramofon, tapi belum jual, tinggal satu soalnya," ungkapnya.
Saat ini, peminat barang-barang antik kian meningkat. Salah satunya, kata dia, karena banyak diburu untuk dekorasi kafe maupun rumah. Ia mampu meraup hasil hingga Rp 3 juta per bulan.
"Kalau menurun sih ya begini-begini aja dari dulu. Tapi sekarang ada peningkatan sih sebenarnya. Orang berkunjung itu kan ada peningkatan hari Jumat, Sabtu itu biasanya ramai. Enggak mesti. Pokok rata-rata itu ya hampir Rp 2 juta sampai Rp 3 juta," katanya.
Di Pasar Nostalgia, juga banyak orang yang menawarkan barang-barang unik kepada para kolektor atau penjual. Bahkan, kata Iswanto, ada boneka yang dijual oleh pemilik sebelumnya karena mistis.
"Sering, ke sini datang bawa barang. Ada tapi ya enggak peduli yang penting keunikannya. Ini (boneka) yang punya enggak berani, jadi dijual," ujar dia.
Ia mengatakan, pernah mendapatkan sebuah lukisan milik Gubernur Jawa Timur periode 1993–1998, Basofi Sudirman. Namun, lukisannya kini telah laku.
"Oh, sudah laku ini, lukisan miliknya Pak Gubernur Basofi. Yang jual teman," kata dia.
Iswanto lalu menunjukkan koleksinya yang cukup kuno yakni solder atau alat untuk penyambung logam buatan tahun 1940.
"Ini Solder pakai minyak tanah ini. Kumpo. Ini tahun 40-an. Jerman, masih ada mereknya. Ini dapat di Solo," ucapnya.
Selain itu, ia juga menunjukkan barang miliknya yang paling tua yakni musik boks yang dibuat tahun 1930.
"Orgel music box itu loh. Ini di Loak ini dari Surabaya. Ini tahun 30-an. Kalau dijual Rp 10-an (juta)," katanya.
Sementara itu, pedagang barang kuno lainnya, Muhammad Riskom (49 tahun), mengatakan awalnya hanya seorang kolektor barang-barang antik sejak tahun 2001.
Lalu, 3 tahun kemudian, barang-barang koleksinya mulai ia jual dan memulai usaha pada tahun 2004.
"Sebetulnya ya beli suka dulu. Enggak terarah beli suka dulu. Kan tahun segitu media sosial belum ada. Jadi tinggal kita telepon pakai telepon umum, telepon ke yang suka-suka aja, dilempar aja. Jualan kalau enggak salah 2004, 2005-an. Tapi mulai ngumpul-ngumpulin barang, beli-beli barang itu 2001. Semuanya, main semuanya. Gak ada spesialis," ujar Riskom.
Saat ini, koleksi Riskom paling antik yakni porselen dan lukisan yang dijual dengan harga Rp 500 ribu hingga jutaan.
"Paling mahal sebetulnya kalau porselen ya Cina tetap. Lukisan, bisa (sampai jutaan), ya tergantung pelukisnya juga. Kalau lukisan kan artisnya siapa yang menentukan mahalnya," ucapnya.
Riskom menyampaikan, pengunjung di Pasar Nostalgia ini hingga mancanegara. Mereka hanya ingin berburu barang-barang yang unik untuk dikoleksi.
"Dari luar negeri ada. Macam-macam ada Australia, Jerman, China. Ada Yaman kemarin itu di sini. Dia memang kan pencari harta karun, kan lintas negara kan banyak," katanya.
"Kadang-kadang dapat, kadang-kadang enggak dapat, kadang-kadang macam-macam. Kadang-kadang spesialisnya kan macam-macam juga ada yang porselen Cina, ada yang Eropa tua gitu. Ada yang kartu-kartu basket yang dari Jepang dicari kartu basket itu. Ya kadang-kadang nemu, kadang-kadang enggak. Australia cari audio, cari piringan hitam, vinyl itu," tambahnya.



