FAJAR, MAKASSAR — Sepak bola bukan semata soal ambisi, taktik, dan disiplin latihan. Di balik statistik dan strategi, selalu ada ruang bagi sesuatu yang tak kasatmata: keyakinan, keberuntungan, dan doa. Pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, tampaknya memahami betul dimensi itu ketika menatap satu nama yang belakangan menyita perhatian.
Ia masih muda. Belum dikenal luas. Namun namanya telah lebih dulu bersinar—terlalu besar bahkan untuk seorang pemain yang baru menapaki kasta tertinggi sepak bola nasional.
Namanya Kaka Amrullah Ronaldo Messi.
Di tengah bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026, PSM Makassar tak hanya berburu pemain berpengalaman. Klub kebanggaan Sulawesi Selatan itu justru memberi panggung pada talenta akademinya sendiri. Kaka Amrullah menjadi simbol dari keberanian tersebut.
Resmi Terdaftar di I.League
Manajemen PSM Makassar telah merampungkan seluruh proses administrasi sang pemain muda. Nama Kaka Amrullah kini resmi tercatat di laman operator kompetisi I.League, tepat di tengah jendela transfer yang dibuka sejak 10 Januari hingga 6 Februari 2026.
Pemain bernomor punggung 96 itu langsung bergabung dalam sesi latihan tim utama. Di Stadion Kalegowa, Gowa, ia terlihat mulai melebur dengan para senior—menyerap atmosfer ruang ganti, ritme latihan, dan tuntutan sepak bola profesional.
Bagi Tomas Trucha, kehadiran Kaka memberi tambahan opsi di lini tengah. Bagi publik Makassar, ini lebih dari sekadar tambahan kedalaman skuad. Ini tentang harapan.
Filosofi di Balik Sebuah Nama
Nama yang disandang Kaka Amrullah bukanlah hasil kebetulan. Ayahnya, Sapriadi, memberi nama itu sebagai doa—sekaligus harapan yang sangat besar.
Nama tersebut merangkum empat legenda sepak bola dunia peraih Ballon d’Or: Ricardo Kaka, Ronaldo Nazário, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi. Total, keempat megabintang itu mengoleksi 16 Ballon d’Or—sebuah warisan simbolik yang kini melekat pada seorang pemuda Makassar.
Sebuah nama yang bisa menjadi beban. Tapi juga bisa menjadi cahaya penuntun.
“Ayah saya penggemar berat sepak bola. Beliau ingin saya bisa berprestasi seperti nama-nama besar itu,” ujar Kaka suatu waktu.
Antara Beban dan Motivasi
Sorotan publik tak terelakkan. Nama Kaka Amrullah kerap mengundang senyum, decak kagum, bahkan kritik. Namun sang pemain memilih jalan tenang.
Baginya, nama itu bukan tekanan. Justru pengingat untuk terus bekerja lebih keras.
Menariknya, dari semua legenda yang namanya melekat padanya, Kaka Amrullah justru paling mengidolakan Lionel Messi.
“Saya suka Messi karena ketenangannya saat bermain. Nama ini tidak membebani saya. Justru jadi motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi PSM,” ucapnya.
Produk Akademi yang Menjanjikan
Di level akademi, Kaka Amrullah bukan sekadar sensasi nama. Performanya mencerminkan potensi nyata.
Bersama PSM U-18 di EPA Liga 1 2024/2025, ia tampil dalam 27 pertandingan dan mencetak tujuh gol—catatan impresif untuk seorang gelandang. Naik ke level PSM U-20 di EPA Super League 2025/2026, ia kembali menunjukkan produktivitas dengan lima gol dari 14 laga.
Statistik itu menjadi dasar kepercayaan tim pelatih untuk membawanya naik kelas.
Menanti Debut di Jepara
Kini, sorotan tertuju ke Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara. PSM Makassar dijadwalkan bertandang ke markas Persijap Jepara pada laga pembuka putaran kedua, Sabtu (24/1/2026), pukul 20.00 Wita.
Publik Makassar menanti: apakah Tomas Trucha akan memberi menit bermain bagi pemain dengan nama paling “mahal” dalam sejarah ruang ganti PSM?
Jika kesempatan itu datang, satu hal pasti—Kaka Amrullah Ronaldo Messi akan melangkah ke lapangan bukan hanya membawa seragam Pasukan Ramang, tetapi juga doa-doa besar yang telah disematkan sejak ia diberi nama.
Dan sepak bola, seperti yang selalu kita tahu, sering kali menyukai cerita-cerita semacam itu.



