Koordinator Relawan Aceh Tangguh, Yulfan, mengungkap tantangan terberat yang dihadapinya saat bencana banjir bandang dan longsor menimpa Aceh. Ia bilang kondisi komunikasi yang terputus menjadi yang terberat.
"Yang pertama soal komunikasi ya. Itu yang paling berat. Jadi kita ingin call-in kawan nggak bisa, mau ajak ketemu nggak bisa, mau rapat nggak bisa, diskusi nggak bisa," ujar Yulfan saat memberikan paparan dalam agenda diskusi di Perpustakaan Komdigi pada Kamis (22/1).
Menurut Yulfan, bencana yang terjadi pada akhir 2025 itu jauh lebih parah dampaknya dibanding tsunami Aceh 2004. Sejumlah infrastruktur rusak sehingga berdampak juga ke mobilitas relawan.
"Tsunami itu infrastruktur nggak ada masalah hanya beberapa yang rusak. Tapi banjir ini, ini luar biasa. Secara infrastruktur yang penting itu hilang semuanya. Listrik, jalan, kemudian komunikasi. Jadi itu memberatkan kita sebenarnya bagaimana membangun komunikasi dan kerja-kerjaan operasi ini," ucap Yulfan.
Meski demikian, kondisi itu tidak menyurutkan semangat para relawan. Dengan segala keterbatasan, relawan sanggup untuk memberikan bantuan kepada para warga terdampak.
Apalagi Relawan Aceh Tangguh dibentuk oleh para penyintas bencana tsunami 2004. Maka itu mereka sangat ingin dapat membantu para warga.
"Kesadaran ini muncul karena kami itu dominannya memang mantan untuk penyintas tsunami 2004. Jadi kita paham betul bagaimana kondisi tsunami saat itu. Dan kita juga ingin melakukan sesuatu, kira-kira kita paham mereka harus dapat sesuatu. Harus dibantu, harus didampingi, harus ditemani, didekati," kata Yulfan.
"2004 Kemudian 2025. Jadi sangat lekat. Masih memori kita pada saat itu sudah bisa diuji (saat) usia 21 tahun. Dan sekarang sudah 40-an. Jadi ingin bergerak itu karena dasar bahwa kami juga pernah merasakan hal yang sama," tambahnya.



